Dec 18, 2003
Tired of being a dyke

GUE

Date Posted: 03:38:09 10/27/01 Sat

 

udah lama gue pengen ninggalin dunia lines...krn gue benci di dunia kaya gitu anak2nya mulutnya pada kaya tai...trus pada saling ngejatuhin dan makan temen satu sama lain. tp sampe skrg gue belum bisa2 jadi straight....

 

GODDESS

Date Posted: 06:47:20 10/28/01 Sun

 

well...

 

ada benernya and ada gak benernya...

 

Salah satu alasan gue jadi lines tuh karena gue benci banget ama yang namanya cowoq... mereka suka nyakitin, mengkhianati..gak setia... bla..blabla deh... ehhh... ternyata setelah gue masuk lingkungan ini, karena gue femme... banyak yang ngajakin selingkuhan berhubung pacar2 mereka gak satu kota.  Nyakitin gak sih kalo kita diselingkuhin kayak begitu?

 

Harusnya kita tuh lebih care sama sesama kita.. lebih setia dan lebih jaga perasaan sesama teman. kalo sama2 disakitin begitu, ngapain juga sok jadi lines....?! at least kalo ama cowoq bakalan gak harus ditutup-tutupi dan banyak yang bakalan simpati kalo kita sampe disakiti.. terutama dari pihak ortu dan teman dekat.  Cobalah buat jadi lines yang berhati luhur dan gak suka menyakiti sesamanya/pacar/temen... kalo emang udah gak cinta, bilang aja terus terang...kenapa juga harus selingkuh?! and gue juga paling gak suka ada gap2 antara sesama lines... antara yang kaya dan yang miskinlah, antara butch dan femme lah... etc.

 

Apalagi banyak yang belagu2 di channel2 pribadi yang gak boleh diketahui orang. mereka sok gak percaya kalo yang masuk bener2 cewek.. masa gue harus buang2 pulsa hp sih cuman buat dipercaya kalo gue tuh ceweq?

pokoke banyak yang kadang bikin kesel deh...

 

Kalo gue pribadi... sampe detik ini gue bener2 berusaha buat setia dan gak pernah pindah ke lain hati dan gak mau nyakitin sesama cewek. karena itu gue benci banget sama yang sok2 an jadi playgirl and mo punya banyak femme....itu aja masukan dari gue....

 

bubbye!

 

GUE

Date Posted: 14:56:47 10/29/01 Mon

 

Iya...aduh gue setuju banget sama apa yg kamu bilang...emang bnyk anak2 "belok" yg belagu2...makanya itu gue bilang gue tuh males banget main sama mereka...kalo menurut gue sih gue cukup sama gf gue aja en ga usah begaul...krn kalo udah begaul tuh pasti timbul masalah (dari pengalaman gue sih begitu).  gimana dunkkkk?

 

GODDESS

Date Posted: 17:03:03 10/30/01 Tue

 

 

Kayaknya pendapat kita sama...but buat gak bergaul kadang-kadang bikin kita tambah ngerasa jadi kaum minoritas :( iya ngga sih?  Gue dan pasangan gue juga pengen punya temen yang sama2 belok and gak single jadinya kita tuh bisa saling sharing and bertukar pikiran or kadang2 jalan bareng2, rame2 and enaknya punya temen2 yang sama2 belok, kita gak perlu harus sibuk nutupin identity kita.. beda kalo kita sohiban ama cewe yang "gak normal" (yang suka cowok) hihihihihi.... Gimana yah nyari temen yang kayak gitu? Yang bisa dipercaya and jadi temen yang bisa buat sharing or double date...

 

bye

 

BONNIE

Date Posted: 03:56:45 10/31/01 Wed

 

Dear Gue & Goddess,

 

Thanks atas sharingnya, saya coba memberikan tanggapan dan siapa tahu bisa jadi masukan yang positif.

 

Suka atau tidak lesbian itu manusia biasa aja...seperti kebanyakan manusia lainnya. Memiliki berbagai sifat manusia yang manusiawi antara lain pemarah, penyayang, sopan, kasar, jahil, genit, setia, sabar, dll.... Bedanya cuma orientasi seksual kita sejenis. Itu aja titik. Cara berpacaran, berpasangan jadi agak beda dikit dengan kebanyakan orang yang berorientasi seksual berlainan jenis, menyesuaikan dengan budaya, konsep dan norma sosial yang ada, yang pro gender dan hetero ini. Ini dulu yang perlu disadari...:)

 

Berikutnya adalah:

Saya pribadi mengenal cukup banyak rekan2, yang mewakili berbagai sifat baik yang positif maupun negatif dan kombinasi diantara keduanya dengan proporsi yang berbeda dari orang ke orang lainnya.  Jadi nggak semua seperti yang kalian temui.

 

Pasti menjadi tidak mudah bagi kita dan dalam komunitas kita untuk menemukan kualitas yang ideal bagi masing-masing bagi kita (relatif ya, negatif itu apa dan positif itu apa, bagi masing-masing orang, yang jelas setiap orang punya preferensi pribadi) sebagai teman hidup maupun teman main (pasangan maupun sahabat).

 

Hal tersebut cukup wajar mengingat kita itu bukan orientasi seksual mayoritas, kita itu jumlahnya tidak banyak, kalaupun ada (atau banyak?) tidak semua dapat ditemui, dan memang sulit bagi seorang lesbian (homoseksual pada umumnya) untuk bisa mengembangkan sifat2 dan potensi mereka yang positif.

 

Alasannya cukup mudah dipahami, karena sejak kita menyadari bahwa kita "berbeda" sejak saat itu kita harus hidup penuh kebimbangan, penuh dengan tanda tanya, ketakutan dll. Dicela kanan dan kiri, tersandung-sandung, sekalinya ketemu teman yang dipikir "sehati" dapat perlakukan yang tidak ramah, tidak terbuka dan tidak menyenangkan.

 

Mempertimbangkan semua itu...(apa yang dialami selama proses pembentukan diri) pasti sudah dapat dibayangkan bagaimana sih kira2 gambaran umum sisi negatif kepribadian seorang lesbian (gay) yang akan dengan mudah tumbuh subur, a.l:

1. Tidak PD

2. Sinis

3. Gampang curiga

4. Gelisah

5. Pemarah

6. Tidak mudah percaya

7. Cuek

dll.

Walaupun sesungguhnya semua itu hanya bentuk kompensasi dari sikap menjaga diri yang menjadi berlebihan yang mau tidak mau dibangun karena keadaan dan kenyataan yang selalu mengecewakan.

 

Memahami semua itu, setidaknya kita akan lebih bisa membuka hati kita untuk bisa memahami rekan-rekan yang bersikap dan berfikir negatif, kemudian memaafkan, lalu menerima sisi negatif rekan-rekan kita sehati. Membuat kita mampu mengulurkan ketulusan dan kepercayaan saat menjalani persahabatan, membuka hati untuk persahabatan dan menyayangi dengan tulus sahabat2 kita, mampu bersabar menghadapi kekurangan sahabat2 kita.

 

Setelah itu, bersama-sama kita saling asah dan asuh, mendukung dan menjaga, agar masing-masing dari kita bisa dan mampu menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berkualitas dari waktu demi waktu. Saya yakin kita bisa, bagaimanapun, senegatif apapun kepribadian kita atau rekan-rekan kita, kita hanya manusia biasa, hati kita bukan dari besi. Rasa sayang dan persahabatan yang tulus ditawarkan pasti mencairkan kebekuan hati mereka.

 

Semoga...

 

Salam,

Bonnie


Posted at 11:43 pm by ILF-Voy6346
Comments (12)  

Out to Parents

Author: Koko

Date Posted: 15:22:27 06/27/01 Wed

 

Halo semua, panggil saya koko. selama satu tahun ini senang rasanya mengenal forum semacam ilf yang saya rasa sangat suportif untuk kaum opressed macam kita. barusan saja ibu ku berkeberanian untuk konfront pilihan sexual saya.  Ternyata dia sudah tahu tentang pilihan saya ini beberapa bulan terakhir. Tentu saja, dia menangis dan merasa bersalah sekali telah melahirkan seorang lesbian. secara sepihak saya merasa senang dan lega sekali karena saya tidak perlu memulai langkah pertama untuk 'out' kepada ortu. saya berusaha yakinkan ibu bahwa pilihan inilah yang membuat saya bahagia. sebagai orang kristen yang sangat "taat" ibuku terus saja menyangkal dan mengatakan bahwa lesbianisme itu dosa yang sangat besar. sementara itu ayah sudah email dan mengajurkan mencari dokter yang netral. aku senang mereka tidak dengan semena mena memutuskan hubungan anak-ortu tetapi selalu saja ada kemungkinan itu dan aku siap menghadapinya. tetapi sebagai manusia tentu saja saya masih takut menghadapi masa depan yang sepertinya tak menentu. adakah teman teman dibelantara forum ini yang berpengalaman seperti saya? adakah informasi informasi yang mungkin saya bisa kirimkan ke ortu tentang seluk beluk lesbianisme yang mungkin bisa menyejukkan hati mereka, entah itu dari segi kesehatan ataupun, sosial, psychology, dll? please whisper your support for me and i'll do the same for you all!

 

**koko

 

Author: Canly

Date Posted: 22:33:28 06/27/01 Wed

 

Dear Koko,

 

Saya ada bbrp teman yg mengalami hal yg sama seperti kamu, yang pasti ada yg ortunya depresi dan feeling quilty, namun ada juga yg ortunya pengertian dan berusaha menerima keadaan anaknya sbg Lesbian/gay. Saya rasa yg perlu kita lakukan adalah komunikasi dg ortu kita, beri pengertian bahwa lesbian/gay itu bukan suatu penyakit fisik, tapi merupakan sifat/bawaan dari sejak lahir, hanya saja ada yg mungkin masih belum menyadari keadaan dirinya sampai suatu saat dia mengalami pencerahan/sadar dg keadaan sebenarnya dari dirinya. Ada yg menyadari sejak kecil/sekolah, ada yg menyadari setelah mengalami pengalaman hidup dg pergaulan di lingkungan, ada pula yg malah karena terbawa-bawa atau terpengaruh teman yg lesbian/gay. Saya rasa Koko mungkin saja masih bingung jati diri, hal ini terbukti dari pikiran Koko ke masa depan yg belum pasti. Seorang Lesbian/gay sejati pasti sudah bisa menerima diri apa adanya dan sudah siap menghadapi hidup ini dg cobaan apapun, baik-buruk, senang-sedih, dsbnya. Dan juga sudah punya rancangan ke masa depan untuk hidup dg pasangan hidup pilihannya. Hanya saja kadang masih saja ada lesbian/gay yg psycho atau suka gonta-ganti pacar tanpa tujuan hidup, hal ini disebabkan karena mereka kemungkinan tidak bisa menerima keadaan dirinya yg tidak bisa diterima di masyarakat dan kondisinya yg tidak sesuai harapan. Atau juga krn pikiran mereka terpengaruh tradisional yg menganggap bahwa lesbian/gay itu adalah suatu penyakit yg tidak bisa disembuhkan atau bisa disembuhkan namun susah.Saya tekankan sbg seorang lesbian/gay tidak salah dan bukan penyakit, tapi bawaan dan inilah kita apa adanya, orang menerima kita bersyukur dan senang, tidak diterima juga tidak apa-apa, maklum saja, kita masih hidup di dalam budaya Timur, sedangkan di Barat hal ini sudah tidak mengherankan dan sudah menjadi salah satu hidup yg normal baik lesbian/gay.

 

Untuk Koko, kalau ingin konsultasi dg psikiater, saya rasa tidak perlu, tidak ada gunanya, tokh kalau memang Koko seorang lesbian/gay tulen, mau digimanain juga tidak akan berubah, paling2 nanti malah jari heteroseksual (Biseksual), dan ini malah akan menyakiti 2 belah pihak lawan jenis. Just be yourself ang tough!  Welcome to real world of life ... accept and just go on !

 

Salam,

Canly

 

Author: Bonnie

Date Posted: 10:14:40 06/28/01

 

Hi Koko, Selamat ya, paling tidak anda telah melampaui salah satu masa yang tidak mudah dalam kehidupan lesbian, yaitu menghadapi reaksi orang tua atas pilihan orientasi seksual kita.Salah satu sources yang dapat memberikan informasi yang memadai adalah artikel2 yang ada di link Artikel-Bonnie dibagian atas halaman web ini, terutama pernyataan dari asosiasi psikolog yang ada di Amerika dan pengakuan dari Ibu seorang lesbian (disadur kedalam bahasa Indonesia, originalnya dalam bhs. inggris). Jika anda ingin lebih lengkap, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencantumkan semua original linksnya (jika tersedia informasinya), jadi anda tinggal klik saja, termasuk link-link dari beberapa web page lain yang didedikasikan untuk kehidupan homoseksualitas diantaranya comingout stories, buddybuddy.com, juga sharing dari rekan2 tentang pengalaman serupa yang pernah dilakukan di forum ini dibagian diskusinya. Jika ada kesulitan untuk mendapatkannya karena adanya error (baca: bonnie’s error) maka anda bisa menghubungi saya untuk mendapatkan teks aslinya dalam bentuk dokumen miccrosoft word.Pada umumnya jalan tengah yang dapat membantu adalah adanya komunikasi, tapi pada intinya (bagi saya pribadi) yang dapat sangat membantu orang tua kita untuk mengerti adalah pendidikan tentang homoseksualitas. Ada berbagai cara, diantaranya adalah komunikasi, tapi mengingat cara berkomunikasi antara orang tua dan anak dalam budaya timur tidaklah semudah sebagaimana yang terdapat di masyarakat di Barat, maka salah satu pilihannya adalah menawarkan informasi berupa bacaan ataupun melalui web page yang memberikan informasi tentang pengalaman lesbian lain terutama penglaman orang tua mereka.

 

Kalau saya ingat-ingat dulu, perasaan yang paling mencekam saat menyadari orientasi seksual saya adalah bahwa sayalah satu2 yang berbeda, aneh, tidak normal, dan berbagai istilah lain yang terdengar mengerikan. Saya pikir, kurang lebih itulah yang dirasakan oleh orang tua saya ketika menyadari dan mengetahui bahwa saya seorang lesbian. Lalu saya ingat bahwa hal yang paling membantu saya untuk dapat menerima kenyataan itu salah satunya adalah mengetahui bahwa ternyata ada orang-orang seperti saya, bahwa saya tidak sendirian dan kami tidak sakit dan tidak normal, dlsb.

 

Jadi kesimpulannya, mungkin para orang tua dapat belajar memahami melalui cara yang sama. Namun perlu diingat adalah hal serupa merupakan keharusan, saya yakin setiap manusia akan belajar dengan cara yang berbeda-beda. Yang jelas intinya adalah mendapatkan informasi yang memadai akan mendapatkan pemahaman dan kemudian penerimaan. Hal lain yang harus diingat adalah bahwa bagi beberapa orang mereka perlu waktu sendirian untuk memahaminya, sehingga bisa jadi keinginan kita untuk berkomunikasi secara lisan akan dapat dianggap dan dirasakan sebagai gangguan ataupun paksaan.  Untuk itu mungkin anda bisa mempertimbangkan untuk memberikan mereka cukup waktu untuk mengkajinya sendirian. Dan jika anda ingin memberikan informasi, mungkin anda harus lakukan dengan cara lain, selain komunikasi lisan.  Dalam situasi anda, saya pikir anda benar bahwa anda cukup beruntung memiliki orang tua yang memilih untuk bertindak dan bereaksi seperti yang ayah anda lakukan. 

 

Menurut saya, anda sudah menerima dan memahami orientasi seksual anda, terbukti dengan reaksi anda terhadap situasi ini. Hanya saja, pertanyaan wajar yang muncul adalah apa dan bagaimana pengaruh orientasi seksual terhadap masa depan anda, dan apa yang bisa lakukan terhadap situasi ini? Jika masa depan yang anda maksudkan adalah diantaranya relationship dan karir maka yang dapat saya bagi disini adalah hal tersebut akan sangat tergantung dari apa yang anda inginkan dan apa yang anda pikir anda bisa dapatkan.

 

Dalam karir, yang sesungguhnya penting adalah profesionalisme kerja anda dalam bidang kerja anda. Walaupun tidak dapat disangkal bahwa adakalanya orientasi seksual anda dapat pula memberikan pengaruh tertentu, seperti sikap anti gay dari rekan kerja yang bisa jadi mengganggu karir. Tapi saya yakin, jika anda memang profesional maka anda akan dapat melampauinya dengan baik dan sukses dalam karir anda.

 

Relationship? Tergantung apa yang anda inginkan, yang jelas faktanya adalah hukum kita belum mengakui “same sex marriage.” Sikap keluarga terutama orang tua juga bisa memberikan pengaruh juga, termasuk sikap dari pasangan dan keluarga pasangan anda. Akan tetapi dari situ mungkin anda bisa mendapatkan gambaran lebih atas bentuk hubungan yang bagaimana yang anda inginkan dan bisa dapatkan.  Saya harap anda segera bisa mendapatkan gambaran yang lebih pasti masa depan anda. Jika belum, jangan terlalu khawatir, dalam belajar dan memahami, tidak ada cara yang paling benar dan yang paling tepat, semuanya relatif, tergantung sudut pandang dan tujuan anda saat menjalaninya.

 

Yang terpenting adalah bahwa kita tidak pernah berhenti untuk berusaha dan saat menjalaninya kita memiliki tujuan baik, dan sebisa mungkin tidak menyakiti atau bermaksud jahat terhadap orang lain maupun diri sendiri. Terkadang memikirkannya lebih menakutkan ketimbang menjalaninya, namun setelah menjalaninya rasanya tidaklah terlalu buruk. Selama kita menyadari bahwa dalam perhubungan antar manusia, kemampuan kita untuk terus belajar akan membuat kita “survive”, karena manusia itu dinamis. Kita pasti membuat kesalahan disepanjang perjalanannya, tapi bukan berarti membuat kita lalu berhenti selamanya dan menyesalinya, akan tetapi kesalahan seharusnya membuat kita berusaha/belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi.

 

Good luck, my friend!

 

Salam,

Bonnie

 

Author: Ratri M.

Date Posted: 00:46:44 06/29/01

 

Dear Koko,

 

Bagaimanapun dalam situasi yang kamu hadapi, saya hanya bisa memberi ‘kekuatan’ lewat kata-kata, dan ini pun semoga membuatmu tetap tegar dan yakini semua pilihan hidupmu.Memang ngga’ mudah berbicara dengan ortu, terus terang aku sendiri ‘belum’ mengalami masa-masa itu. Hanya saja kebetulan pasangan hidupku (Smara) pernah lalui hal itu dengan “baik”. Bahkan sekarang alhamdullilah ibu Smara sudah menganggap aku ‘menantu’ yang baik :). Tetapi memang perjalanan menuju itu sangat panjang.  Uhmmmm, aku akan sedikit berbagi apa yang dialami Smara (ceritanya nih aku jadi juru bicara dia di forum ini, maklum dia kurang akrab tuk bicara di forum cyber:)). Jadi dulu Smara sempat ‘lari’ dari keluarganya sebelum membuat ‘pengakuan’ secara tertulis lewat surat. Dan tentu saja orang tuanya pastilah ‘kurang bisa menerima’, namun memang pada akhirnya mereka kembali terima dirinya dengan ‘berat hati’. Ibunya yang memang lebih ‘cemas’ menerima hal tersebut, sementara bapaknya (alm) agak ‘tenang’ menghadapi. Tapi sikap Smara yang pendiam, dan tidak ‘memberontak’ dalam mengkomunikasikan tentang keyakinan dirinya, pada akhirnya itu yang justru menaklukkan hati keluarganya, terutama ibunya. Ibunya tentu saja sulit menerima pilihan hidupnya, namun Smara tetap bersabar menunjukkan bahwa meski orientasinya bukan hetero seperti kakak dan adiknya, namun dia tetap berbakti pada ibunya.

 

Kalaupun ada konflik/pertentangan dengan ibunya, lalu sang ibu mulai mengatakan soal dosa dan sebagainya, maka biasanya dia hanya diam dulu. Setelah ibu mulai ‘tenang’ berganti dia sekali lagi bicara dengan bahasa dia yang halus bahwa apa yg dia jalani memang pilihannya.Tak cuma itu dari sikapnya pun ditunjukkan kalau dia samasekali tak ada niatan ‘melawan’ atau ‘merusak’ nama baik keluarga. Ia tetap bekerja dengan baik, dan tetap menghargai ibunya sebagai seorang yang telah melahirkannya. Memang agak berat menjalani itu, karena terbayang kan, dia ‘dimusuhi’ tapi dia harus tetap berbaik-baik pada keluarga, terutama pada ibunya. Waktu pertama kali aku jalan sama dia, aku merasakan benar konflik batin tersebut. Namun aku juga harus ikut ‘kuat’ menanggung itu bersama dengannya. Dan alhamdullilah sampai sekarang hubungan kami dengan ibunya pun makin baik. Memang sih sesekali ia masih suka memberi ‘ceramah’ soal punya ‘keluarga’, ‘punya anak’, dll, tapi buat kami itu memang sesuatu yang ‘wajar’ bila dikatakan oleh seorang ibu seperti beliau. Yang penting memang dari kita yang harus lebih ‘kuat’ dan tahan menahan segala ‘gempuran’.

 

Anyway, soal bahan bacaan yang mungkin bisa adopsi, ada sebuah cerita dari situs angelfire.com dengan judul The confession of Lesbian’s Mother, yang mungkin bisa dikirimkan buat Mama-mu, cerita itu sudah di cuplik di Jurnal Perempuan Edisi 16 (Edisi Ibu dan anak perempuan), yang memuatnya sebagai cerpen dengan judul “Sebuah Pengakuan”. Aku rasa itu bagus banget tuk dipahami para ibu lesbian. Dan benar kata Bonnie, terkadang memang lebih mudah berkomunikasi lewat tulisan untuk hal-hal tertentu karena adanya gap antara anak dan ortu. Moga sukses buatmu.

 

Warm wishes

 

Author: koko

Date Posted: 08:31:47 06/29/01

 

Terimakasih untuk semua dukungan teman teman.Saat ini saya sedang menyusun surat untuk orang tua, wah rasanya seperti menyusun skripsi saja, dengan segala macam article yang mungkin bisa memberi alternative gambaran tentang seluk beluk seorang lesbian. Testimoni kalian semua sangat berharga dan sangat suportif untuk saya sendiri. Again, from the deepest place in my heart, thankyou.

 

**esther

 

Author: auditor

Date Posted: 10:32:46 09/01/01

 

Hi koko,

I just wondering how are you doing now? Hope everything is fine with you now. If the thingy is still lingering about meeting the psycologist/psychiatrist? If it still....I would like to share my experience (meeting pychologist/psychiatrist) with you.  Please keep us informed.

 

Sincerely,

Auditor


Posted at 11:39 pm by ILF-Voy6346
Comments (4)  

Antara Empati & Judgement

Author: Leny

Date Posted: 07:38:52 12/23/02 Mon

 

HARGA SEBUAH EMPATI

 

EMPATI. Kalau kita melontarkan suatu pertanyaan “Apakah arti dari kata empati ?”, maka banyak orang akan menjawab “Empati aja kok nggak tahu sih ?! Empati adalah suatu keadaan dimana kita bisa ikut merasakan, kemudian mengerti dan akhirnya dapat memahami sesuatu yang sedang dialami oleh orang lain tanpa ikut mengalami peristiwa yang dialami oleh orang itu. Namun tanpa melibatkan perasaan atau emosi kita, karena hal itu akan berubah menjadi simpati”.

Orang akan dengan mudah menjabarkan makna dari empati, namun akan semudah itukah pelaksanaannya ? Pada kenyataannya TIDAK !!! Yang selama ini mudah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat adalah JUDGEMENT. Apa maksudnya ? Pada kenyataannya banyak orang yang memandang bahwa homosexual adalah sesuatu yang nista, penuh dosa dan menjijikkan. Itulah judgement yang diberikan masyarakat kepada kaum homosexual. Mereka yang memberikan judgement itu lupa bahwa homosexual adalah bukan semata-mata suatu pilihan yang bisa dengan seenaknya seseorang memilih untuk menjadi seorang homosexual sebagaimana kita memilih pakaian yang hendak dipakai. Lantas mereka menganggap bahwa seorang homosexual selalu berperilaku buruk, tidak beradab dan senang meng-exploitasi sex. Bukankah perilaku demikian banyak juga ditemukan pada orang-orang heterosexual ?

Bagaimana sebenarnya agar kita bisa mempunyai rasa empati yang tinggi ? Sebenarnya tidak terlalu rumit, yaitu kita berusaha untuk menempatkan atau memposisikan diri kita pada posisi dimana orang lain berada, namun tentu saja harus berangkat dari keinginan yang bersih dan harus melalui suatu perenungan. Dan yang harus diperhatikan adalah kita harus terlebih dahulu membersihkan diri dari prasangka dan keinginan untuk memberikan judgement.

Sebenarnya banyak orang yang tidak mengetahui apa dan bagaimana kehidupan homosexual itu, namun karena sudah ada prasangka maka banyak orang yang tidak mau lagi mendengarkan penjelasan apapun mengenai homosexual. Namun anehnya tanpa ada bekal pengetahuan yang cukup (bahkan jauh dari cukup), mereka sudah memberikan judgement terhadap kaum homosexual. Sebagian besar masyarakat yang memberikan judgement buruk terhadap kaum homosexual tidak pernah berpikir dan apalagi merenungkan bagaiamana seandainya dirinyalah yang terlahir sebagai seorang homosexual dan kemudian menerima judgement / perlakuan yang buruk dari orang-orang di sekitarnya ?

Apabila pertanyaan tersebut dilontarkan maka saya yakin ( 100% yakin ) bahwa orang yang bukan homosexual akan menjawab “Tentu saja saya akan berusaha keras agar saya bisa menjadi heterosexual dan menjalani hidup sebagaimana orang normal lainnya !”. Untuk mereka yang menjawab demikian, saya tidak perlu berkomentar banyak dan saya hanya akan menyarankan agar tingkat empatinya lebih ditingkatkan lagi.

Suatu ketika saya pernah sedikit melakukan adu argumen dengan teman kuliah saya mengenai homosexual. Tentu saja teman saya itu bukan seorang homosexual dn dia tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang homosexual. Waktu itu saya mengetengahkan hasil interview saya dengan beberapa orang homosexual di Surabaya dan seorang transexual. Saya mencoba menjelaskan kepada teman saya bagaimana kehidupan kaum homosexual itu dan apa saja yang mereka rasakan sebagai seorang homosexual, dan bagaimana mereka menghadapi judgement dari masyarakat. Namun bagaimanapun saya mencoba memberikan penjelasan, tetap saja teman saya itu memberikan judgement yang sangat buruk terhadap kaum homosexual. Sebenarnya teman saya itu adalah orang yang mempunyai pengetahuan cukup mengenai homosexual dan hal-hal yang berhubungan dengan homosexual, tetapi mungkin karena teman saya itu kurang mempunyai rasa empati terhadap kaum homosexual, maka yang terjadi tetap saja adalah judgement.

Dari sinilah dapat kita lihat dan kita rasakan bahwa ternyata empati memang mudah untuk dibicarakan dan hampir semua orang tahu apa artinya empati, namun ternyata sebuah empati begitu “mahal” harganya, sampai-sampai banyak orang yang tidak bisa “membelinya” dan memilikinya. Sedangkan sebuah judgement begitu “murah harganya” sehingga banyak “dibagi-bagikan” orang kepada orang lain / pihak lain padahal belum tentu orang lain / pihak lain itu mau menerima judgement tersebut.

 

Author: FosSilL

Date Posted: 18:40:32 12/23/02 Mon

 

hai len,

 

saya rasa kekecewaan km dan lain2nya dapat saya mengerti dengan jelas sekali. banyak orang salah mengartikan orang2 homoseksual ato transeksual terebut karena.....

1. masih banyak di luar sana orang2 yang menyebut dirinya homoseksual atau transeksual memperlihatkan dirinya secara negatif. contohnya: tidak bersekolah, nongkrong sana sini, dll. walaupun saya yakin diantar mereka tidak ada maksud negatif atau lainnya tapi pada kenyataannya orangyang melihat tidak pernah sama dengan apa yang kita inginkan.

2. dilihat dari sisi kebudayaan kita sendiri yang masih cukup tradisional, tidak mudah untuk mereka menerima kenyataan homoseksual dan transeksual tersebut.

3. pada kenyataannya masalah ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hal ini sudah menjadi rahasia umum di mana-mana tapi tetap tidak ada atau jarang sekali adanya pengakuan secara pasti mengenai homoseksual dan transeksual itu.

 

hal-hal yang menjadi faktor tidak adanya empati karena kesalah pahaman dan kesalhan dalam menilai adalah hak setiap orang yang melihat dan menilai. memang sungguh hal tersebut menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi kita tapi lagi kita dapat menunjukkan sisi baik atau positif kita tapi tidak bagi teman2 sehati lainnya.

pada kenyatannya di negara yang melegalkan hubungan sejenis tetap saja ada mata yang lihat dengan kebencian dan lain2nya. lalu pertanyaan bagaimana dengan negara yang masih belum melegalkan?????

nah, saya juga pernah diskusi masalah ini dengan teman kuliah dan pada akhirnya saya dapat menarik satu kesimpulan yaitu MEREKA MASIH BELUM DAPAT BERLAPANG DADA dengan kenyataan yang cepat lampat harus dihadapi di dalam komuniti masyarakat kita.

 

jadi apa yang dapat kita lakukan?>??? menurut saya kita tidak dapat melakukan apa2 untuk merubah cara pandang mereka tapi hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu tunjukan pada mereka bahwa orang homoseksual ato transeksual itu tidak kala dengan mereka yang hetero dalam hal karier, kehidupan dll bahkan kita bisa lebih baik lagi dari mereka. hingga suatu hari pengakuan itu dapat kita raih karena kita dalah contoh nyata yang harus dapat menjadi teladan bagi teman2 sehati lainnya, dan hal itu merupakan tangung jawab kita semua yang memiliki kesadaran lebih.

 

salam sehati.

 

Author: Leny

Date Posted: 08:26:35 12/30/02 Mon

 

Halo Fossil,

Mungkin kita tidak harus berdiam diri saja menghadapi masyarakat yang anti homosexual. Memang yang lebih penting adalah kita berbuat sebaik mungkin dan memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kaum homosexual tidak kalah dengan kaum heterosexual, baik dalam karier, pendidikan dsb. Selain itu sebenarnya kita bisa juga kok sedikit demi sedikit mengubah cara pandang orang heterosexual yang semula anti homosexual menjadi toleran dan akhirnya menjadi "pembela" kaum homosexual. Saya pernah melakukan itu, dan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Salah satu yang saya lakukan adalah sering dan sangat...sangat...sangat sering melakukan diskusi mengenai homosexual dengan teman saya yang anti homosexual itu. Pada awalnya di malah jijik mendengar kata homosexual, namun karena kita sering diskusi maka akhirnya dia menjadi terbuka pikirannya dan toleran terhadap kaum homosexual. Jadi yang saya lakukan dengan membuat tulisan tersebut adalah bukan semata-mata karena saya kecewa dan sakit hati kemudian dendam dengan masyarakat yang anti homosexual, TIDAK. Saya hanya ingin mengajak masyarakat untuk berdiskusi dan mau mencoba sedikit memahami bagaimana sebenarnya kaum homosexual itu, agar mereka tidak selalu memakai kacamata kuda dan tidak mau melihat sesuatu hal dengan lebih luas. Memang apa yang saya lakukan tidak bisa membawa hasil dalam semalam, namun segala sesuatu harus ada yang memulai. Itu saja !

Thanks, buat tanggapannya.

 

Author: Bonnie

Date Posted: 01:36:47 12/24/02 Tue

 

Dear friends,

 

Penerimaan yang minim disebabkan banyak hal, umumnya karena keterbatasan pengetahuan yang memadai tentang homoseksualitas itu sendiri.

 

Keterbatasan informasi disebabkan banyak hal di Indonesia antara lain:

1. Monopoli kekuasaan untuk memberikan penafsiran dari agama tertentu terhadap homoseksualitas

2. Kelangkaan/minimnya informasi tentang homoseksualitas

3. Prasangka negatif terhadap homoseksualitas seperti;

a. Memahami hubungan sejenis atau homoseksualitas dalam hanya konteks “seks” yang kemudian menjadi satu-satunya pemahaman yang ada dimasyarakat umum.

b. Kemudian dengan pemahaman awal tersebut diatas banyak orang mengasosiasikan “pesta seks” sebagai satu-satunya image tentang homoseksualitas.

 

Belum banyak diketahui bahwa:

1. Dalam homoseksualitas terdapat:

a. lesbian

b. biseksual

c. gay

d. transgender

e. transeksual

2. Ada alternatif penafsiran terhadap homoseksualitas, yang dengan monopoli kekuasaan tertentu (biasanya penguasa) tidak pernah dipublikasikan sebagaimana penafsiran tentang anti homoseksualitas;

3. Informasi yang salah bahwa homoseksualitas adalah suatu penyakit kejiwaan, yang kemudian telah direvisi sejak tahun 1970, termasuk diberlakukan di Indonesia, juga jarang diketahui oleh publik;

4. Orientasi seksual adalah hak yang asasi bagi seorang manusia sebagaimana hak asasi lainnya termasuk memiliki agama, penghidupan yang layak;

5. Orientasi seksual tidak semata berhenti pada kata: SEKS dan tidak melulu tentang kegiatan SEKS, malah ada beberapa hubungan sejenis tanpa kegiatan seksual;

6. Norma-norma suatu hubungan sejenis/homoseksual juga sama seperti halnya heteroseksual (kecuali tentang jenis kelamin pasangannya), monogami, keinginan membangun rumah tanggal, berkeluarga, punya anak, dll;

7. Heteroseksualitas bukan kemutlakan atau yang satu-satunya yang normal, homoseksualitas juga normal, hanya saja heteroseksualitas lebih umum dibandingkan homoseksualitas;

8. Pemahaman tentang homoseksualitas bukan suatu misi propaganda homoseksualitas yang bermaksud mengkonversi seluruh orientasi umat manusia akan tetapi hanya preferensi seksual dari seorang manusia.

 

Hal lain yang juga penting adalah bahwa homoseksual maupun heteroseksual hanya manusia biasa, ada yang baik dan ada yang jahat, terdiri dari beragam profesi, tingkat sosial, latar belakang pendidikan, kepribadian, bakat, penampilan fisik, dll.

 

Untuk itu, akan selalu ada rekan homoseksual yang tidak seberuntung yang lainnya dalam kehidupan sosial, kemampuan fisik dan intelektual, termasuk latar belakang psikologis dan memiliki variasi preferensi dan minat (cara berpenampilan dan berperilaku). Banyak ragam dengan banyak alasan, tidak setiap kali kita mampu memahaminya. Tapi adalah hak setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri dan menjaga hak orang lain (tidak merugikan orang lain).

 

Untuk itu juga tidak proporsional jika kita menilai rekan yang kurang beruntung atau tidak memiliki kemampuan cukup untuk menjadi lebih baik, sebagai pihak yang memberi contoh yang “tidak baik” bagi homoseksual. Manusia heteroseksual lebih banyak, pasti diantaranya banyak juga yang “tidak baik”, tapi kemudian tidak membuat kita berfikir setiap hetero juga tidak baik dalam artian yang sama.

 

Saya yakin setiap dari kita berusaha menjalani kehidupan kita sebaik2nya dan kapasitas terbaik kita, kita berusaha jadi teladan bagi manusia lain, bukan hanya homoseksual. Kita akan berusaha semampu kita, tapi kemudian kegagalan kita bukan berarti kegagalan seluruh homoseksual. Walau mungkin sebagai homoseksual kita mendapat sorotan dan tekanan lebih itu hanya adanya kesalahpahaman terhadap homoseksualitas yang harus diluruskan atau cara penyampaian yang perlu disesuaikan mungkin juga butuh waktu yang lebih lama.

Lagipula, jika satu-satunya yang penting untuk dinilai adalah orientasi seksual seseorang maka apapun yang dilakukan tidak akan pernah cukup baik, kecuali ia memiliki orientasi seksual yang dianggap benar.

 

Umumya, sering kali kita juga lupa bahwa dengan situasi dimana informasi dan penerimaan terhadap homoseksualitas yang minin di Indonesia (belum lagi prasangka dan image yang “menakutkan” tentang homoseksualitas) kita juga butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencerna homoseksualitas dan menerima diri kita sendiri, lalu kemudian saat kita berdialog dengan orang lain yang non homoseksual, kita sering kali lupa jika mereka juga butuh waktu untuk mencerna dan kemudian menerima sehingga seringkali kita kecewa. Mungkin kita juga harus cukup toleran dan bersabar, memberi mereka cukup waktu dan ruang untuk mencerna semuanya. Dalam pengalaman pribadi saya, terkadang buat 1 orang butuh proses bertahun-tahun hingga akhirnya ia bisa menerima preferensi seksual saya. Tapi memang ada juga beberapa orang yang bisa menerima begitu saja tanpa butuh waktu, usaha dan penjelasan yang panjang lebar.

 

Dari kita untuk kita,

 

Salam,

Bonnie


Posted at 11:37 pm by ILF-Voy6346
Comments (1)  

Do love see butch, femme or andro?

Author: margo

Date Posted: 03:48:01 10/20/01 Sat

 

do love see butch, femme or andro? di dunia lesbian ada istialah untuk feminim, tomboy ato setengah dari keduanya itu. kecendrungan setiap orang akan memilih satu dari penggolongan itu. entahlah apakah penggolongan itu berdasarkan penampilan mereka ato pun dari kecendrungan secara mental kita. saya sendiri mengolongkan diri ke golongan tomboy karena secara fisik saya akan terlihat tomboy. tapi entahlah yah, krn bisa dibilang saya lebih sering menangis dibandingkan pacar saya yang feminim. :) banyak di antara mereka mengatakan lebih baik km jadi fem aja dari pada butch! saya rasa ini yang ingin saya bagi kepada teman2 sekalian

 

saya memiliki pacar namanaya afi, dia andro. bisa dibilang penampilnya super tomboy dengan suaranya yang serak2. pertama kali saya memimpikan seorang pacar yang feminim dengan kelembutnya dan lain sebagainya. tapi afi membuka mata saya lebar dia mengatakan " apakah kasih, cinta dan sayang akan melihat siapa yang akan menerimanya? apakah 2 orang manusia yang saling menyayangi harus di pisahkan karena pengolongan itu?"

dia tingal di sdyney, disana dia memiliki teman yang lesbian dengan pasangannya yang sama2 tomboy.

 

sejak itu saya merasakan hal-hal yang berbeda dari hari kehari. saya mencintai afi, sangat mencintai dia dan gak tau dari mana munculnya. mungkin secara fisik saya tidak tertarik dengannya tapi yang saya rasakan adalah rasa aman, damai, dan bermasa depan.

 

sekarang yang menjadi pertanyaan apakah salah untuk mencitai seseorang yang tomboy untuk menjadi pasangaan saya? apakah masalah pengolongan tadi benar2 penting? apakah cinta dan sayang melihat fisik?

saya merasa masih banyak di antara kita yang memberikan persayaratan bermacam2 untuk calon pacarnya, saya tidak melarang toh ini masalah pribadi masing2.

 

tapi saya ingin membagi pengalaman bahwa kadang kita gak bisa memilih dan mencari karena ketika dia datang dan begitu dekat dengan kita, hanya ada dua kemungkinan : pertama tidak melihat karena begitu sibuk mencari dan kedua melihat serta mengesampingkan semua ragu yang kita miliki. saya bahagia dan saya juga ingin teman2 juga bahgia :)

 

dan sekarang bila ada yang bilang kesaya kenapa saya gak jadi fem aja, saya akan menjawab its not important!

 

Author: foxy

Date Posted: 03:22:42 10/22/01 Mon

 

bener...

 

gue begitu baca posting ini juga merasa kalo pengkotak-kotakan dlm dunia lines kadang malah bikin kita bingung sendiri...

bravo margo!

 

Author: Bonnie

Date Posted: 07:37:52 10/22/01 Mon

 

Hello Margo,

 

Aku sih termasuk yang pro non-label walaupun setiap kali bilang begitu aku dipelototin seperti melihat hantu :) hehehehehe aku barangkali ya? Sorry, sementara saya jumpalitan mempersiapkan catering eh gathering, mungkin sementara sementara coba baca dulu artikel yang membahas soal ini (yang pernah dibahas di Fridae.com), silahkan menyimak di salah satu page archive (lupa yang nomor berapa - Lihat kanan atas halaman ini) yang berjudul label..label...label...diposting oleh saya sendiri. Setelah dibaca nanti aku akan kasih tanggapan yang puanjang dan luebar dech! Asal nggak capek aja bacanya.

 

Semoga bermanfaat!

 

Salam,

 

 

:)

 

Author: margo

Date Posted: 05:22:58 10/25/01 Thu

 

thx yah bon. ak juga tuh gak tahan tingal 2 hari lagi untuk acara gartingan :)

yah entah lah cuman kadang rese aja lah kalo ada yang bilang"pokoknya FEM, gua mau yang cantik........bla2"

kadang apa gak mikir ada yang lebih peting aja dari itu. kadang2 bingung aja kalo kita dah mencari jalan hidup yan berbeda dengan harapan lebih baik dari sebelomnya, ternyata yang kita dapetin adalah sama aja. (sigh) moga2 banyak orang yang lama2 akan mengerti tentang ini semuanya. thx yah buat dukungannya.

 

Author: bonnie

Date Posted: 03:29:08 10/24/01 Wed

 

Margo,

 

Ini dia artikel yang aku bilang...aku copy aja buat topik ini supaya mudah membuat rujukan. Happy reading!

 

This is the first of a fortnightly column by Fire Sia in Manila, Philippines. She speaks candidly about labels, finding herself and what it means to be a lesbian.

 

I am in love with a womyn - that is what is important to me. Never mind if she's butch, femme or androgynous, what matters is that she is the sensitive, kind and loving womyn I have chosen to be with. Being lesbian makes us look like complicated creatures. For most straights I know, there is only one kind of lesbian: butch. It seems to be difficult for them to understand that a lesbian is simply a womyn-loving-womyn, regardless of labels. When I was in college, I used to think that I had to identify with either the butches or the femmes. Femmes weren't considered lesbian, but butches were. I know, I know...sounds really weird, but that's how things were. And even if my mother hated my baggy jeans and big t-shirts, I chose to be butch and that was a dangerous choice. I studied in an all-girls Catholic college and as far as the student handbook was concerned, lesbianism was not permitted and was punishable by expulsion. It was so easy for them to kick out the butches. To them, the femmes were still "normal" and it was the butches who were deviants. How sad it is that many people still believe that femmes are actually straight. This is more often based on the assumption that all femmes like lesbians who look male because in reality, they are still attracted to men. I disagree. Of course, there are femmes who believe that their partners are actually men trapped in women's bodies, now that's a different story altogether - and I will talk about that next time. Somehow I managed to stay and graduate from college before they thought of actually kicking me out. I was lucky. It was not until I enrolled in graduate school that I learned much more about myself. I joined a university based lesbian organization, first one in my country in fact, and little did I know that I was to discover that there was more than one kind of lesbian.

 

The first and most important lesson was defining a lesbian. A lesbian is a womyn who loves other womyn. So to identify as lesbian, I had to first identify as a womyn, then as a womyn-loving-womyn. Imagine all those years in college, I was pressured to look, think and act male because I thought being lesbian meant becoming a man. Of course I was very happy to find out that I need not identify as a man at all, and that being lesbian was even acknowledging a different and special kind of femininity. The next step was to get comfortable with the idea of labels. I then learned that there wasn't just one kind of lesbian. In simple terms, femmes were the more feminine lesbians and butches were on the masculine side. It was a relief for me to find out that butches weren't the only lesbians in the world. I was happy to know that femmes can identify as lesbian too. I immediately identified as butch, based on my physical appearance. The only problem there was that some other butch womyn thought of me as someone "in-the-middle." They pointed out that I was too feminine to be butch (very true). From that time on, I just stopped labeling myself and decided, that if I should be labeled, I'd be called an androgynous lesbian. The process I went through helped me get over a lot of my hang-ups and insecurities. It helped define me not only as a lesbian but as person as well. I needed to know the truth and when I found it, I felt better about myself. The people who hear the story of my realization have a difficult time breaking their thoughts away from the stereotypical definitions they were used to believing. Those stereotypes have done nothing but make people afraid of us and call us freaks. After educating ourselves, I think that society needs to be educated about homosexuality too. We can't deny that there are homosexuals who have given us a bad name but it's our chance to prove that a great majority of our minority is composed of good, responsible and respectful people.

 

Salam,

Bonnie

 

Author: Egi

Date Posted: 18:36:06 10/26/01 Fri

 

Hore...hidup Margo...hidup Bonnie, satu lagi, hidup...starbuck


Posted at 11:32 pm by ILF-Voy6346
Comments (9)  

Hubungan jarak jauh

Author: pd

Date Posted: 10:47:35 01/14/03 Tue

 

is it good or bad?

aku punya pengalaman pribadi, i'll share later

 

Author: bear

Date Posted: 23:46:17 01/19/03 Sun

 

It good as long as it can make you happy and loovely

 

Author: teman

Date Posted: 20:41:46 01/21/03 Tue

 

aku punya 2 pengalaman terhadap 2 orang kekasih dalam 2 situasi yang berbeda, dan hanya ada 1 kesamaan yakni : HUBUNGAN JARAK JAUH.

Aku ingin sharing pengalaman pertama :

Hubungan jarak jauh haruslah punya landasan komitmen dan saling percaya yang kuat, pengalamanku 4 tahun hubungan jarak jauh sekali....lain benua malah...meskipun dah lama tak menjamin kelanggengan.....bila pasangan tak yakin akhir dari hubungan ini, walaupun diyakinkan dengan berbagai cara....tokh hasilnya nihil.

Pengalaman keduaku kebetulan juga dari hubungan jarak jauh, pentingnya komunikasi yang baik, secara berkala, saling pengertian,landasan komitmen yang kuat dengan tujuan kebersamaan.....sampai saat ini masih dapat berjalan...

bagiku, ada sisi baik dan buruknya juga. Baiknya adalah terbinanya sebuah kesetiaan yang makin tulus dan murni, tapi kurang baiknya yaa....jauhnya itu lhoo...kalo kangen deket, ya nggak bisa ngapa-ngapain, meski tetap bisa komunikasi.....haruslah suatu saat berjumpa darat...cukup hanya dengan memandang dari mata ke mata, dari hati ke hati sudah cukup, tanpa banyak bicara.....itulah kasih yang diwujudkan.....

KESABARANLAH KUNCINYA.....

Semoga daku tetap bersabar dalam penantian ini

 

Author: asa

Date Posted: 06:56:23 01/30/03 Thu

 

menurut saya hubungan jarak jauh itu bisa berjalan asal ada commitment dari 2 belah pihak, karena menurut saya dalam hubungan itu mau jauh ato deket yg penting adalah saling pengertian, mau memberi lebih daripada menerima dan kesabaran..

saya sendiri punya pengalaman dengan hubungan jarak jauh, buat saya kalo saya sudah mencintai seseorang saya akan dengan orang itu, saya tidak keberatan apakan dia tidak bisa selalu bersama saya, karena saya tidak mau kehilangan orang yg saya cintai hanya karena saya jauh dari dia, bagi saya walaupun dia jauh, she is there for me and i know that she love me.. dan untungnya dia juga berpikiran sama seperti saya, she wants me and she doesnt wannt anybody else, so as long as we have the comitment we can face the world.. mungkin ini juga bisa berjalan karena kedewasaan kita berdua untuk menerima keadaan ini dan cinta kita yg kuat for each other..

itu sedikit masukan saya

cheers, asa

 

Author: somebody from far and away

Date Posted: 01:57:09 01/24/03 Fri

 

wah...kamu itu kasihan banget ya..iyalah setidak nya hub jaraj jauh itu memang langgengnya hanya sekitar 75% lagian kamu gak tau dia lagi ngapain di sana??? ya kan..kali aja udah punya gandengan baru tapi dia gak bilang2 lebih baik hubungan dekat aja deh supaya bisa di kontrol....

 

Author: sobat

Date Posted: 20:01:29 01/27/03 Mon

 

long distance relationship...

ada baiknya ada jeleknya....segala sesuatu mesti ada yg baik dan ada yg jelek...tetapi jika diberi pilihan yg lebih baik kenapa gak mencoba yg lebih baik??

 

it's just an argument...:)

piece..

 

Author: pd

Date Posted: 08:32:30 01/29/03 Wed

 

sobat

iya tuh, gak ada salahnya dicoba

tapi harus selalu siap2 patah hati aja karena kemungkinan ada yg nyeleweng itu lebih besar

 

Author: jaz

Date Posted: 20:34:23 01/30/03 Thu

 

Honesty to yourself and your partner, a truck load of patience and understanding, trust (most importantly!)... knowing who you are and what you want, knowing what she wants, communicate honestly, learning and relearning about yourself and your partner... patience (again), commitment, honesty (again!)... be the person you are and not to be the person you THINK your partner wants, not afraid of hurting each other when you know that it is for the betterment of your relationship...

 

Sounds like a hard work? maybe for some but not for others. Most importantly: ask and be honest with yourself... ask yourself if it is worth to do, if it is what you both want. The effort has to come from both sides.

 

Sounds to good to be true? Maybe for the ones who doesn't believe in it. However, talking from my own experience... it's not easy... a shed of tears here and there (right asa? :) ... but if you asked me: is it worthed? YES.

 

Love, commitment, patience, trust, humbleness and understanding of one self as well as of your partner's... that we both are just human being... bound to make mistakes... Learning and re-learning...

 

I am in that relationship now... and yes, I am happy and so does she.

have a lovely day... till next time.

 

jaz

 

PS. love you babe

 

Author: sobat

Date Posted: 04:08:58 02/03/03 Mon

 

dear pd...

kalo memang sudah tau akan patah hati,bukankah kita sudah mengetahui apa yg akan terjadi dgn suatu hubungan??

okie..memang berat...perlu banyak pengorbanan...tapi jika akhirnya akan menyakitkan, hitung2 buat pengalaman agar kita semakin dewasa, & mengerti betapa berharganya suatu hubungan.

 

buat perenungan: hubungan jarak dekatpun sudah cukup sulit bagi kita untuk menjaganya, apalagi hubungan jarak jauh???

 

bagiku pribadi,aku lebih baik menghindarinya...it's just for me...and it's just an argument...:)

 

piece..:)

 

Author: pd

Date Posted: 10:12:08 02/03/03 Mon

 

yah tdk semua hubungan jarak jauh berakhir dgn patah hati

 

memang it'a alot safer to have a local relationship

 

hub jrk jauh resikonya tinggi, tapi banyak orang juga yg (karena terlalu deeply in love) melihatnya sebagai challange

 

::kalo udah jatuh cinta..... ihhhhh

pertamanya sih kenalan doang, tdk mau ada relationship karena dia ternyata tinggalnya jauh, tapi lama2 jadi suka, sejauh apapun gak peduli, pokoknya udah suka::

 

Author: shany

Date Posted: 00:52:19 02/04/03 Tue

 

kalo kata 'udah suka' 'deeply in love' mau bilang apa lagi, asal bisa tanggung resiko nya yah jalani aja, ya toh? wong hitung2 tangtangan lah seperti kata kamu :) asal kalo gak jadi alias bubar jangan nagis sejadi jadinya...:)

 

 

Author: Wei

Date Posted: 11:14:29 02/06/03 Thu

 

Maaf sebelumnya untuk teman teman sekalian yang ada di forum ini, mungkin saya akan menggangkat suatu issue yang jarang di ungkapkan di channel ini. Aku merasa aku tidak berada di tubuh yang tepat sebagai perempuan. Dari kecil aku sudah suka sama yang namanya perempuan dan tak pernah jatuh hati sama yang namanya lelaki. Keadaan sekarang membuat orang melihatku sebagai lesbian, walaupun pada dasarnya sebenarnya aku pengin jadi cowok. Setelah sekian lama hidup dalam kebingungan aku memutuskan bahwa aku mau berubah untuk menjadi lelaki. Dan untuk itu aku harus operasi. Dengan message ini aku pengin tahu pendapat teman teman mengenai keadaanku ini, bila aku ternyata telah menyalahi aturan dalam forum ini aku minta maaf. Aku minta pendapat kepada kalian karena mungkin kita sama sama mencintai wanita dengan tubuh wanita (saat ini untukku).

Apakah ada di antara teman-teman yang sebenarnya mempunyai perasaan dan keinginan yang sama, lepas dari badan yang tidak cocok dengan perasaan dan jiwa?

Terima Kasih sebelumnya.

 

Author: Baru-baru

Date Posted: 07:25:38 02/10/03 Mon

 

Weleh-weleh, aku punya teman ya. Salam jarak jauh. My femme juga berjarak sekarang. Sebelumnya pengalaman ku juga jarak jauh... empat-empatnya guagal total.

 

Tapi kan manusia kudu tetep mencoba. Ya, kali ini mencoba lagilah daku. Bukannya apa-apa. Nggak mungkin deh gue ngelepasin sesuatu yang begitu indahnya. Pun kalo sampe putus (amit-AMIT), ya.. gue paling sedih nya luar biasa, tapi kan life must go on.

 

Cuman satu aja yang gue sesalin kalo putus. Ex gue pasti nyesel banget.. he... he... soalnya gue seharusnya dikeep kok, nggak nyesel dah.. (loh, kok jadi promosian gini??)

 

Good luck my distance mate... Inga-inga, di sini pun gue ngerasain yang sama: kangennya, pengennya... (itu... tuuhh), jealous nya... dllsb.

 

Cheers!

 

Author: Drummer

Date Posted: 02:37:56 02/13/03 Thu

 

Hubungan Jarak Jauh?

 

Wah aku sama pasanganku jarak jauh tuh. Beda propinsi, tapi satu pulau. Sampe sekarang kami masih barengan. Saling percaya aja. Saling...apa adanya...kumaha deui?

 

Thanks,

 

Drummer


Posted at 11:29 pm by ILF-Voy6346
Comments (5)  

HELP !!! pacar gw mo kawin !!!

Author: siapa aja

Date Posted: 23:25:47 09/03/02 Tue

 

Hi teman,

 

Walaupun kami telah membicarakannya 1000 kali, saya telah mendorong dan menyetujuinya.... yang saya rasakan sekarang gamang seakan nggak berpijak dalam tanah.... ngebayangin dia mau kawin...

 

Jahat nggak sih kalau suatu saat saya masih menggoda dia yang kemudian dia jadi tergoda (padahal dia sudah menjadi milik orang lain ?). Salahkah kalau saya mendoakan perkawinan mereka nggak sukses ? Sementara saya tidak bisa memberikan status yang jelas ???

 

Kenapa sih perempuan butuh status ? Padahal saya merasa hepi dengan apa yang saya punya sekarang...

 

u r comment plz... biar saya bisa menghadapinya dengan santai.

 

gp

 

Author: Pal

Date Posted: 00:56:07 09/04/02 Wed

 

Sudah waktunya GP merelakan pacar menikah dan ga harus menuntut soal status thd perempuan.. bukannya cowokpun juga buth status? sdgkan kalo GP katakan status bukannya GP tulis topiknya juga: "pacar" (status) gw mau kawin? Yakinkah kalau kalian berdua memiliki status "pacar"?

Kalo soal status pernikahan sudah seperti kita ketahui kalo emang itu seperti tuntutan di dunia hetero dan mereka tidak melihat dunia komunitas kita ini...sepertinya kita masih menuju jalan yang panjang untuk meraih apa yang diharapkan komunitas kita dari dulu sampai sekarang

 

Jahat nggak sih kalau suatu saat saya masih menggoda dia yang kemudian dia jadi tergoda (padahal dia sudah menjadi milik orang lain ?). Salahkah kalau saya mendoakan perkawinan mereka nggak sukses ? -->jahat dan salah banget!! pernahkan terpikirkan oleh loe kalau seandainya posisi loe di dia sekarang ini dan betapa sesaknya dia karena bingung untuk bersikap terhadap diri sendiri saat loe muncul dan mulai mengusik kehidupan lainnya yg sudah dia ambil dan dia akan jalani.. bukan nya cinta dan pengertian dari dia yg loe dapatkan melainkan kebingungan dan kesedihan yg dia tunjukkan ke loe... well selamat berpikir dan relakan kenyataan ini untuk mengambil alih.

 

Author: Ade GB

Date Posted: 01:42:17 09/04/02 Wed

 

Yang pertama kali harus disadari, pernikahan bukanlah hal yang main-main hanya untuk sebuah status. Pernikahan, bagi preferensi seksual manapun, sejatinya adalah sebuah hal yang sakral. Namun demikian, semuanya berpulang kepada pribadi masing-masing.

 

Saya pernah mengalami hal yang sama. Saya tahu betul rasa sakitnya, rasa bingungnya... dunia terasa runtuh. Ketika kita disakiti, reaksi yang terjadi biasanya ada beberapa:

- marah dan membalas

- marah lalu pergi

- kesal atau marah tapi memaafkan dan tetap pergi

- kesal atau marah lalu memaafkan dan kemudian tetap berteman baik

Seluruh reaksi itu manusiawi adanya, tapi sekarang tinggal kita mau jadi manusia yang model apa. Yang terbaik adalah kalau GP bisa menjadi seperti yang terakhir: memaafkan dia dan tetap berteman baik dengannya. Namun tidak semua orang bisa mencapai tahap itu. Selain itu juga, tidak semua orang yang kemudian memutuskan untuk menikah juga kemudian mau tetap berteman.

 

Pada kasus saya, saya memilih pergi sementara itu, mantan saya juga lebih memilih untuk tidak berhubungan dengan saya lagi. Namun demikian, betapapun sakitnya saya, saya tidak pernah mengganggu dan menggodanya sama sekali. Ingatlah bahwa ketika kita berlaku jahat pada orang lain, kita juga sebenarnya merasa sakit karena kejahatan yang kita lakukan pada mereka. Lagipula, saya percaya dengan konsep "what goes around, comes around"... apa yang kita semai, itulah yang akan kita tuai. Ketika kita menyemai kejahatan, kejahatan itu pula yang akan menimpa kita. Jika kita lakukan itu, kita akan berada dalam lingkaran derita yang tak akan pernah putus.

 

Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyembuhkan luka hati itu. Namun pada akhirnya saya bersyukur bahwa pengalaman itu telah mengajarkan hal yang teramat luar biasa bagi saya dan telah membuat saya mengambil hikmahnya.

 

GP, bukankah hidup ini pilihan? Kamu bisa memilih untuk melakukan yang terbaik atau pun melakukan yang buruk. Tapi percayalah, perjuangan berat akan berujung pada kebaikan. Saya sih sudah membuktikannya. Setelah melewati masa pasang-surut dan bertahan, kini saya menemukan orang-orang yang bersama kasih sayang mereka yang tulus, saya jalani kehidupan ini. Saya juga menemukan tambatan hati yang sebenarnya bukanlah manusia sempurna, tapi dia sempurna untuk saya. Bersamanya, saya jalani kehidupan ini apa adanya dengan hati yang damai.

 

Saya berharap kamu tidak mudah menyerah dan semoga cerita saya bisa membantu.

 

Peace and love in solidarity,

Ade GB

 

Author: gp

Date Posted: 20:35:14 09/12/02 Thu

 

Pal & Ade GB,

 

Makasih atas perhatiannya.... saya udah merasa baikan kok. Setelah saya renungkan, saya udah mulai menerima... dan membuat saya menyadari bahwa emang itu semua perjalanan hidup yang harus dijalani.

 

Walaupun, saya (kadang2) merasa.... bahwa diatas kertas saya lebih segala-galanya... (bukannya ke GRan) tapi emang saya nggak bisa kasih status ! Jadi.... mo diapain lagi..., mungkin lebih baik saya konsentrasi bekerja aja, bukankah hidup harus terus berlanjut ? Bukan jodoh kali ya.....

 

Yang pasti terima kasih pada kalian berdua yang ikut membesarkan hati saya.

 

gp

 

Author: lek's

Date Posted: 22:51:11 09/12/02 Thu

 

It is a natural desire for your gf for companionship and family. Marriage is the best way to fulfill this natural desire, so just set her free.

 

Author: UV

Date Posted: 02:43:42 09/13/02 Fri

 

Dear gp,

 

It has happened to me many times before I met my loved one yg sekarang. Kenapa? Karena semua mantan saya (belasan deh) adalah straight alias hetero. Because of me, mereka tahu apa itu sayang dg sesama.

 

Resep saya utk survive:

 

- Pada saat kita commit jadian nih, siapkan diri kita lahir batin bhw "one day" ada kemungkinan pasangan kita "tersadar" akan tuntutan banyak pihak (termasuk diri dia sendiri) utk menikah.

 

- Jika dia sdh ketemu yg cocok, kita hrs bantu dia menilai donk baik ngga sih calon dia? Kalau kurang baik, kasih tahu, but being objective aja...

 

- Kalau ok, siapkan the best farewell utk kalian berdua.

 

- Abis itu: Leave her alone with her future husband.

Jangan ditengok, ditelpon, ataupun dikunjungi. Menyepilah...mau nangis jejeritan,

mau bungee jumping..terserah,

pokoknya ilangin dulu bete kamu.

 

- Then, lanjutkan lagi hidup kamu....lihat di sekeliling kamu yg positif, insya Allah ada makhluk cantik yg akan sayangi kamu. It takes time, though...

 

Cobain deh...sekali pasti sakit, 2x agak sakit, 3x agak kebal, 4x lumayan...n seterusnya...

 

Keep your faith...pasti ketemu seseorang yg memang diciptakan Tuhan utk menemani hidup kamu. Itu kalau kamu berdoa n memohon lho...

 

Cheers, uv

 

Author: gp

Date Posted: 06:19:40 09/13/02 Fri

 

hi UV,

 

Ceritera doong ? Kok ampe belasan.... bagi satu kenapa ? (becanda kok, emangnya permen). Mudah-mudahan saya cepat kebal... kayaknya agak sulit juga sih, masalahnya saya agak susah dapat mahkluk cantik yang 'pas'. Kali saya banyak maunya.... he..he... Atau saya harus mengiklankan diri ? Tuh kan berkat kalian, gw udah mulai bisa becanda !

 

OK, semua saran akan saya jalankan. Kayaknya saya harus ambil cuti sementara dia nikah. Gile nggak sih, sekuat-kuat gw pasti nggak bakalan tahan kalo masih di Jakarta. Rencananya pengen liburan satu minggu... trus kembali ke kesibukan semula, untung lagi banyak kerjaan ! Ada yang mo ikut ?

 

Makasih juga buat leks dan UV gw tunggu ceriteranya.

 

gp


Posted at 11:23 pm by ILF-Voy6346
Comments (3)  

Mempertanyakan keberadaan butch

Author: sampun

Date Posted: 03:13:06 04/17/02 Wed

 

Mempertanyakan butch

 

(Judul diatas yang rada provocative itu cuma untuk eye-catching saja)

 

Pengertian butch disini adalah prototype belokkk yang paling sedikit mempunyai ciri-ciri, terutama pakaian dan penampilan, yang nyaris seperti laki-laki. Bahkan orang "awam" bisa terkecoh mengatakan bahwa butch itu adalah memang laki-laki, sedangkan mata yang sudah terlatih langsung menandai bahwa itulah butch.

 

Tentu saja tidak bisa serta merta disimpulkan dari semata-mata penampilan bahwa orang tersebut adalah ini dan itu. Karena itu perempuan straight yang berpenampilan "butch" atau paling sedikit tomboi tidak didiskusikan disini. Pun tidak mempertanyakan belokkk yang tidak berpenampilan butch karena ini memerlukan diskusi tersendiri: mempertanyakan fem.

 

Nah, kembali kepada butch yang belokkk itu. Ada beberapa pertanyaan disini:

Mengapa butch yang berjenis perempuan itu ingin menampilkan diri sebagai laki-laki? Pasti banyak jawaban yang beragam disini, dan jawaban-jawaban atau alasan-alasan lebih menarik untuk dibahas lebih lanjut ketimbang menggugat keberadaan fenomenanya.

 

Ada yang menjawab, kenapa tidak? Artinya apakah harus mempunyai alasan untuk menampilkan diri sebagai ini dan itu? Tidak ada hak asasi manusia yang dilanggar disini. Selain itu mungkin ada yang menjawab, karena suka menampilkan diri sebagai lelaki (maskulin), jadi ini lebih karena pilihan estetika saja. Ada juga yang merasa (secara sadar dan tidak) karena dia benci untuk tampil sebagai perempuan (feminin). Semua alasan –alasan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan lebih lanjut namun alasan yang belakangan ini bisa menimbulkan konflik dalam diri butch tersebut karena dilain pihak masyarakat telah melihatnya dan mengkondisikannya sebagai perempuan. Mungkin ini yang sering disebut sebagai kasus “terjebak” dalam tubuh perempuan. Lalu bagaimana butch yang ini membebaskan diri dari konflik tersebut? Gugatan untuk membebaskan diri ini cukup beralasan karena kebencian untuk tampil feminine bisa termasuk bentuk pengingkaran diri atau bentuk protes. Apalagi kalau banyak aktivitas-aktivitas yang seharusnya dijalankan tapi tidak dilakukan karena penjara yang berbentuk tubuh feminin ini.

 

Selain itu pernah dikatakan bahwa menjadi belokkk adalah satu hal, sedangkan menyatakan diri sebagai belokkk adalah hal yang lain. Sebagian orang merasa bahwa butch ditinjau dari penampilannya merupakan suatu “pernyataan”, paling sedikit “inilah saya, apapun saya”. (Apalagi diikuti dengan sejumlah aktivitas lain maka bisa mengarahkan kesimpulan bahwa inilah pernyataan utuh seorang belokkk).

 

Seorang butch yang sudah memilih out of the closet tentunya sudah menyadari ini. Bisa jadi ini adalah bagian dari suatu perjuangan. Cerita sukses dan tidak sukses (?) cukup banyak bahkan dikompilasi. Tapi bagaimana dengan seorang butch yang memilih (sadar atau tidak) untuk stay in the closet? Inipun bisa menimbulkan potensial konflik karena sebagian dirinya sudah “menyatakan” (ini dapat dirasakan oleh orang awam), sedangkan secara sadar dirinya tidak akan atau belum melalui proses coming out. Bagaimana membebaskan dirinya (lagi) dari konflik ini.

 

Sekian dulu, sebelumnya terimakasih atas tanggapannya. Kalo ade sale-sale kate maapin aje.

 

Sampun

 

Author: Ade Gb

Date Posted: 00:11:58 04/18/02 Thu

 

Mpun... jadi bingung mau nanggapin apa ya... soalnya hal-hal yang kamu bilang itu sudah sebagian dari alasan-alasan dan kamu sendiri nggak ada gugatan terhadap keberadaan butch.

Tapi kita bisa bicara tentang ini, kita bisa pilah-pilah dulu. Pertama, labelling butch itu mau mengacu pada apa? Apakah pada penampilan saja atau juga pada peran? Kalau acuannya sebatas pada penampilan, masalahnya hanya soal nyaman dan enggak, soal fashion dan enggak, soal fashion mood bisa juga. Bisa jadi untuk orang itu dia nyaman kalau pakai celana, kemeja, kaos longgar. Kalau cuma sebatas pada penampilan, urusannya jadi teramat datar seperti si A sukanya dipiercing, sementara si B sukanya warna coklat, dan si C senengnya pake blazer biarpun hawa panas dan matahari terik ;)

 

Akan menjadi sangat menarik kalau urusannya soal peran. Seperti dalam dunia heteroseksual di mana ada konstruksi sosial-budaya tentang peran laki-laki dan perempuan, fenomena butch-femme bisa juga berkaitan dengan itu. Referensinya bisa jadi butch adalah yang me-... dan femme adalah yang di-... Misalnya butch adalah yang melindungi sedangkan femme adalah yang dilindungi. Butch yang menangani urusan yang butuh tenaga berat sedangkan femme yang mengurus hal-hal yang "ringan-ringan". Saya mencermati, seringkali referensi peran butch-femme mirip seperti konstruksi sosial-budaya peran lelaki-perempuan dalam dunia heteroseksual. Saya dulu termasuk orang yang into labelling soal pembagian peran ini. Tapi kemudian, ketika hidup bersama pasangan sudah dijalankan, ternyata saya menemukan bahwa tidak ada batasan peran absolut bahwa yang satu adalah yang selalu me-... dan yang lainnya adalah yang selalu di-... Setiap orang selalu me-... dan di-..., dua-duanya sekaligus di saat-saat yang berbeda. Biarpun "butch" tapi kalau lagi down, tentunya butuh diberi perhatian, dihibur, ditentramkan hatinya, iya kan? ;)

Kalau kita melihat lebih dalam lagi, soal pembagian peran lelaki-perempuan maupun butch-femme sebenarnya sangatlah superficial. Inti pembagian peran adalah soal kekuasaan. Soal siapa yang berkuasa pada wilayah publik dan siapa yang berkuasa pada wilayah domestik.

Pembagian peran butch-femme, saya pikir ada kaitannya dengan soal psikologi juga. Memang ada juga yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan, tapi ada juga yang tidak seperti itu. Saya menemukan, beberapa di antaranya berkaitan dengan soal psikologis. Ada di antara mereka yang memiliki bapak yang sangat baik dan kemudian tokoh bapak ini melekat di diri mereka. Ada juga yang lainnya justru punya pengalaman buruk dengan tokoh bapak, sehingga dia mengambil tokoh bapak tapi hanya pada penampakannya saja dan mengubahnya menjadi baik. Pada kasus terakhir, ini seperti ingin memberitahu bahwa harusnya menjadi laki-laki yang baik itu yang seperti ini.

Bagi mereka yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan, permasalahannya, di Indonesia tidak ada kepastian hukum kalau mereka ingin melakukan operasi. Mungkin, kalau memang kepastian hukum itu ada, soalnya jadi lain. Bisa jadi mereka-mereka yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan dan ingin menjadi laki-laki ini merasa lebih nyaman kalau melakukan operasi transeksual. Tapi tahukah anda, bahwa tidak sesederhana itu permasalahannya. Pasangan saya pernah bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian melakukan operasi transeksual tapi ketika dia sudah menjadi laki-laki, dia justru pacaran sama laki-laki juga. Nah lho! Gimana tuh dengan fenomena seperti itu!?

 

Apa yang saya kemukakan cuma sebagian yang sangat kecil tentang alasan butchi. Namun demikian, masih banyak alasan-alasan lain yang kita tidak ketahui dan seringkali, kalaupun kita mengetahuinya tapi kita tidak bisa memahaminya. Memang perlu juga sih mengetahui alasan-alasan lebih banyak supaya kita paham. Saya setuju sama anda, Mpun, bahwa penting juga untuk mengetahui alasan-alasan dalam rangka pemahaman yang lebih baik, tidak dalam rangka menghakimi.

 

Saya sendiri, sekarang ini tidak into labelling. I'm a woman and celebrate my womanity with other woman ;)

 

Author: Mpun

Date Posted: 03:14:41 04/18/02 Thu

 

Terimakasih tanggapannya yang komprehensif, Ade.

 

Sedikit mau buka rahasia. Sebenarnya isi tulisan saya diatas "diilhami" oleh tulisan Irenne yang terkenal itu. Dengan asumsi bahwa saya bisa memahami yang ingin disampaikan Irenne dengan "reading between the lines", lalu saya berandai-andai bagaimana kalau saya menyampaikannya lagi dengan sedikit improvisasi yaitu minus ketidaksopanan dan tanpa shu'uzon, disertai beberapa telaah.

 

Nah, ternyata tulisan saya walaupun yang tanpa shock therapy dan rada membosankan itu ditanggapi secara baik dan bahkan dengan informasi yang lebih banyak lagi (biarpun baru dari 1 orang penanggap, bandingkan dengan tulisan Irenne yang mengundang banyak tanggapan). Ternyata mengkomunikasikan suatu aspirasi yang berbentuk "gugatan" bisa dengan cara shock therapy maupun dengan cara yang rada membosankan seperti ini. Sayangnya, banyak informasi yang berharga bisa terlewat atau tidak terserap seperti yang diharapkan kalau memakai cara yang heboh. (Saya mengharap semoga Irenne membaca ini, atau barangkali tidak karena tulisannya berasal dari milis SS).

 

Nah, mengenai tanggapan dari Ade.

Ya, pertanyaannya adalah mengenai penampilan dan gaya hidup butch berkaitan dengan dirinya sebagai makhluk sosial di antara masyarakat sekitar, yang awam maupun yang tidak terlalu "awam", yang bersimpati maupun yang "tidak bersimpati". Salah satu gugatan:

 

"Gugatan untuk membebaskan diri ini cukup beralasan karena kebencian untuk tampil feminine bisa termasuk bentuk pengingkaran diri atau bentuk protes. Apalagi kalau banyak aktivitas yang seharusnya dia jalankan tapi tidak dilakukan karena penjara yang berbentuk tubuh feminin ini".

 

Dan lagi:

 

"Tapi bagaimana dengan seorang butch yang memilih (sadar atau tidak) untuk stay in the closet? Inipun bisa menimbulkan potensial konflik karena sebagian dirinya sudah “menyatakan” (ini dapat dirasakan oleh orang awam), sedangkan secara sadar dirinya tidak akan atau belum melalui proses coming out. Bagaimana membebaskan dirinya (lagi) dari konflik ini?"

 

Dengan kata lain: apakah butch telah berdamai dengan masing-masing alasan yang dipilih (secara sadar maupun tidak)?

 

Anda juga menambahkan wawasan diskusi,yaitu mengenai peran. Ya, saya setuju bahwa peran butch-femme yang berada diantara spektrum hitam putih itu mungkin cerminan dari struktur sosial yang konvensional. Barangkali, kalau nanti struktur ini berubah, demikian juga yang terjadi dengan perubahan peran butch-femme?

 

Sekarang struktur peran konvensional itu banyak digugat oleh pro-feminist karena dinilai tidak sesuai dengan perubahan jaman ditambah lagi karena hegemoni lelaki (maskulin) yang cenderung mendominasi dan memanipulasi. Nah, akankah butch-femme memelopori "dekonstruksi" ini atau cenderung mengekor? (Jadi teringat teman lama si Gadispinter yang menuntut agar kaum belokkk belajar feminisme dulu!).

 

Tentu saja dapat dipahami bahwa sebagian belokkk tidak mempersoalkan label dan peran. Namun sebagian belokkk yang lain dan dalam kenyataan sehari-hari ini masih sangat terasa karena antara lain pemahaman yang membebaskan ini belum sepenuhnya mencapai "trickle down effect". Rupanya jalan masih panjang.

 

Mpun

 

Author: gevalia

Date Posted: 09:28:47 04/18/02 Thu

 

hi Sampun dan Ade GB

 

aku tertarik ikut diskusi kalian, karena aku sendiri agak quesioning my understanding about these phenomenon.

 

o..sebelumnya, aku mau bilang untuk Sampun bahwa, aku nggak begitu comfortable dengan pengunaan kata 'belokk' untuk para lesbian/homosexual, karena konotasinya lalu kepada 'deviasi', yang mengandung feature 'non-normality', padahal kita sama setuju bahwa homosexuality is just different.

aku pernah punya bumper sticker yang bilang

'Hoterosexuality is NOT normal...its just COMMON'. I love it..;)

 

anyways, mengenai kategory butch/femme. belajar dari pengalaman pribadi..aku rasa pembagian peran baik dari sisi penampilan maupun peran kayaknya nggak perlu ada. dulu awal-awal, pasangan aku selalu bilang kalau aku yang femme dia yang butch...aku sih nggak setuju, tapi gitulah..biarin aja...tapi lama kelamaan, terlihat juga kalau pembagian peran itu lalu 'ter-gugurkan', karena penampilan, hmm, aku nggak super feminim juga rasanya..kalau peran..ok aku lebih suka masak dari dia, tapi aku suka main soccer..dianya nggak, aku bidangnya lebih engeneering/science sedangkan dia komunikasi/sastra...trus siapa yg butch siapa yg femme?

 

tapi kalau kita lihat..kenyataannya memang seperti itu. society have tendency untuk 'mengkategorikan' konstituen-konstituent yang ada, dan menurut aku, itu adalah mekanisme supaya gampang menandai/point fingers when needed. dunia heterosexual dengan peran suami/istri cenderung pakai spektrum hitam-putih, walaupun di dunia barat, spektrumnya nggak se tajam di dunia timur. phenomenon kecenderungan masyarakat unutk meng kotak-kotakan anggotanya itu yang aku nggak begitu paham...aku nggak punya theoretical knoledge/analysis tentang ini...

 

aku tertarik dengan pertanyaan mengenai keberadaan butch/femme di dunia lesbian yang mengekor konstruksi sosial yang konvensional..atau harusnya di 'deconstruksi'?

secara sepintas aku bilang sih harus di 'de-construksi'and one big argument untuk ini adalah karena konvension yang ada sekarang menitikberatkan kepada 'penampilan' dan 'pembagian peran' yang bukan saja, sama sekali sudah tidak sesuai konteks sekarang, tapi juga bahwa itu adalah hal-hal yang seharusnya nggak penting dalam interaksi manusia. artinya, penampilan seseorang harusnya tidak lebih penting dari apa yang ada di 'kepala' nya atau di 'hati'nya. alasan yang kedua, kalau sudah bisa menerima keberadaan diri sebagai lesbian (dalam closet atau di luar..), berarti sudah 'mampu' keluar dari THE biggest social convention, kenapa lalu mau terikat dengan aturan2 yg ada..??

 

di lain pihak...aku merasa bahwa kecenderungan untuk mengkategorikan diri/dan orang lain itu adalah one of human basic needs ;) therefore its really hard to escape. kalaupun dalam dunia lesbian kita pengennya nggak ada itu, tapi kok ya banyak juga yang begitu...(qualitatively, aku kira at least 75% yg identify dirinya butch/feme/andro).kalau ada yg punya more accurate figure..will be helpful. and who are we to say that itu hanya karena mereka 'mengekor'..bisa saja bahwa kebutuhan itu timbul karena alasan lain yang kita tidak tau..

 

jadi kayaknya aku kira itu dikembalikan ke masing-masing pasangan dan orang aja. yang penting disini adalah ketersediaan informasi/wacana tentang berbagai kemungkinan dengan masing-masing argumentnya.that is what democracy all about...its about accesibility and right to choose..which is different from konstruksi social yg berdasar pada budaya/agama/pandangan politik tertentu. for this reason..I am not so much for femminism either..I wish there is not such structured anything...karena most isme come with certain thoughts and 'constrain' which to my understanding..hinders human being from be themeselve, and lead to fanatism.

 

above all, kalau kita bisa menerima kepelbagaian dengan besar hati..that is the most beautiful. kepelbagaian itu bukan cuma ada antara hetero dan homo...sesama homosexual juga punya perbedaan...so..

 

I leave it like this dulu ya...karena aku sudah mulai nggak focus nih ;)..nanti sambung lagi deh

 

take care, ~a

 

Author: Mpun

Date Posted: 02:59:30 04/23/02 Tue

 

Hi Ade, Gevalia

 

Mengenai istilah “belokkk”. Ini ada sedikit romantisme pribadi, istilah ini justru saya tiru dari seorang atau beberapa belokkk di milis ini (hayoooo ngaku…….! …:-). Kebetulan di beberapa puisi yang saya tulis, perkataan dan istilah ini kok cocok untuk menyiratkan beberapa perumpamaan atau simbol yang sejalan penafsirannya. Kemudian untuk membedakan belok dan “belokkk” jadinya saya tambahkan 3 “k” disitu (ini di-ilhami juga oleh anggota milis yang suka ketawa….kekekeke….). Selebihnya bisa dimengerti bahwa ini tak lebih dari sekedar membiasakan kamuflase daripada kebablasan di depan umum kalau lagi ngobrol di resto, misalnya.

 

Tentu saja saya tidak akan bersikukuh kalau komunitas belokkk keberatan dengan istilah ini. Dalam hal ini romantisme pribadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aspirasi mereka. Seperti juga saya tidak keberatan disebut “Mpun” oleh Ade daripada “Sampun” karena rasanya Mpun lebih gaya.

 

Jadi sementara belum ada gugatan dari teman-teman lain, atau belum ketemu istilah lain, ijinkan saya untuk menggunakan istilah ini? Terimakasih.

 

Lagi mengenai penampilan butch. Apalah arti sebuah penampilan? Secara perorangan, menyimak dari yang secara langsung dan tidak langsung dijabarkan oleh Ade dan Gevalia, saya berkesimpulan kita semua setuju bahwa pada akhirnya kepribadian secara keseluruhanlah yang dinilai. Bahwa secara perorangan penampilan banyak ditentukan oleh selera masing-masing. Bahwa penampilan yang bervariasi justru memperkaya.

 

Tapi secara agregat ternyata penampilan membuat pernyataan, perbedaan dan reaksi timbal balik dari masyarakat umum maupun dari komunitas belokkk itu sendiri. Karena mudah dimengerti bahwa penampilan adalah bagian dari identitas. Sedangkan identitas (selanjutnya peran) adalah citra diri dan kelompok yang proses pembentukannya tidak terlepas dari dari proses konstruksi maupun dekonstruksi yang sedang berjalan di masyarakat kita. Kejelasan antara identitas dan peran sangat menolong dalam membentuk konstruksi yang positip, sehingga selanjutnya memperjelas keberadaan belokkk didunia heterogen.

 

Khususnya yang ingin saya diskusikan lebih lanjut adalah mengenai butch yang terjebak dalam tubuh perempuan. Dari milis SS yang baru-baru ini saya tengok ternyata disitu ada yang sedang melakukan shock therapy, seperti menggebrak sarang tawon, supaya tawon itu berhamburan, barangkali saja ada tawon dari sarang madu lain yang mampir disitu. Therapist ini (yang kemudian ramai-ramai diantup tawon), intinya mengusulkan agar identitas butch yang trans ini lebih diperjelas demi kepentingan dirinya (kelompoknya) sendiri, komunitas belokkk yang lain dan persepsi masyarakat luas.

 

Tapi dilain pihak harus diakui bahwa proses menuju kejelasan identitas membutuhkan proses yang panjang dan berkaitan dengan perkembangan konstruksi dan dekonstruksi sosial lainnya dimasa mendatang. Yang jelas ini tidaklah mudah bahkan menyakitkan bagi yang bersangkutan. Bisa dibayangkan kelompok minoritas trans ini akan menjadi kelas yang berkali-kali terpinggirkan yaitu, sebagai perempuan, transgender, dan belokkk. Didalam konteks ini secara sadar atau tidak komunitas trans dan belokkk harus mengevaluasi “cost and benefit” nya.

 

Mengenai peran. Kita mengerti bahwa peran apapun termasuk yang dalam dunia belokkk butch, femme, andro tidak terlepas dari proses tiru-meniru yang merupakan bagian dari proses suatu konstruksi sosial. Inilah yang saya maksud dengan “mengekor” yaitu menunjuk pada sinisme dari sebagian belokkk yang pro feminis yang merefleksikan kepentingan perempuan secara luas, yang mengkritik pembagian peran ini karena kelihatan mengulang lagi pembagian peran dalam dunia konvensional yaitu maskulin vs feminin. Yang namanya mengekor tentu saja memberi kesan rendahan dan tidak kreatif. Dilain pihak kritikan ini ada baiknya dikemukakan mengingat bahwa didalam peran selalu ada kecenderungan yang satu mendominasi atau memanipulasi yang lain sehingga menjadi konstruksi yang tidak sehat.

 

Dilain pihak pembagian peran antara butch-femme ternyata bisa dipandang sebagai suatu proses dekonstruksi, yaitu karena seorang perempuan yang utuh (bandingkan dengan transgender yang merasa atau mengaku dirinya laki-laki), mengakui dan mengenakan seperangkat identitas dan peran yang tadinya dikuasai oleh lelaki didunia konvensional. Bukankah ini merupakan gugatan dari tatanan yang sudah ada?

 

Butch yang kelihatan lebih menonjol didunia belokkk dibandingkan dengan femme dan andro (?), secara tegas bahkan secara secara kontroversial memperkenalkan dan menghadirkan keberadaan belokkk didunia konvensional.

 

Kehadiran butch juga mengisyaratkan romantisme kepada femme dan andro. Didalam shock therapy SS juga dipertanyakan apakah dalam konteks ini butch merasa atau memperkenalkan dirinya sebagai butch (perempuan) atau trans (lelaki) kepada pasangannya, dan bagaimana pasangan tersebut menanggapi?

 

Selain itu seperti yang Gevalia kemukakan bahwa mayoritas belokkk tampaknya tersebar diantara peran butch-femme ini. Dengan kata lain, ini adalah fakta representatif yang sedang berjalan.

 

Kalau telah disepakati bahwa identitas dan peran mempunyai andil penting dalam proses konstruksi dan dekonstruksi, dan karenanya akan memberikan sumbangan positip bagi kesetaraan minoritas belokkk diantara dunia konvensional, selanjutnya pembagian peran konvensional memang mesti di-dekonstruksi.

 

Pertanyaannya, bagaimana mendekonstruksi peran dalam dunia belokkk itu? Didalam kerangka yang bagaimanakah peran ini bisa diperjelas dan dimengerti, sedangkan identitas dan peran ini seperti yang dikemukakan berkali-kali oleh Ade dan Gevalia, begitu kompleks dan tidak sederhana, tapi tentu saja kita tidak berhenti sampai disini saja. Yang diperlukan antara lain adalah ekspressi atau pernyataan yang jujur dan terperinci dari para butch (termasuk trans), femme, dan andro mengenai keberadaannya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain, dari berbagai kelompok usia, daerah, status sosial dan latar belakang secara umum, dan direkonsiliasi dari catatan yang sudah terkompilasi maupun yang sedang berjalan dan yang akan dilakukan.

 

Mpun


Posted at 11:21 pm by ILF-Voy6346
Comments (8)  

Saat pilihan sudah ada...

Author: some1

Date Posted: 01:54:03 02/09/02 Sat

 

saya pernah menikah. saya pacaran 2 kali. dengan yang pertama kl 3 tahun. dan yang ke 2 sekitar 6 bulan hingga sekarang. masalahnya adalah saya merasa bahwa ini adalah pilihan hidup saya. bukan karena saya sudah pernah menikah or ada anak, tapi karena memang saya merasakan kenyamanan itu ada pada menjalin hub ini. ironisnya...my partner tidak dapat memberikan komit atas hub ini. karena alasan yang 'agak' kurang masuk akal meskipun saya tau bahwa dia cinta sekali dengan saya.

 

teman pria saya banyak dan bukan sombong banyak diantara mereka yang menaruh minat thd saya. tapi saya tidak tergerak untuk mengikat dng mrk karena bukan itu pilihan hidup saya. sekarang2 ini saya cenderung stress dengan kondisi yang saya hadapi. waktu terus berjalan...so umurpun terus nambah. begitu sulitkah di 'dunia les' ini menemukan partner yang bisa di ajak commit???

 

 

 

Author: gue

Date Posted: 08:17:42 02/09/02 Sat

 

jangan khawatir tdk semua les yg sulit utk diajak commit. saya rasa org2 yg sulit utk diajak commit adlh org2 yg beelum merasa nyaman dgn kondisinya atau dgn pasangannya. tp kalo sdh merasa nyaman dan merasa yakin dgn pasangannya pasti commitment itu akan mudah utk diadakan.

 

Author: Bonnie

Date Posted: 09:32:31 02/10/02 Sun

 

To Some1

 

Tanpa pengakuan hukum dan masyarakat, memang dunia lez menjadi dunia yang tidak mudah untuk dijalani. Akan tetapi tidak berarti kita tidak dapat membentuk dan memiliki komitmen. Lalu, dengan komitmen2 kita dengan pasangan kita, tidak berarti kita dapat mengabaikan kenyataan hidup. Semuanya butuh keseimbangan (pemenuhan yang proporsional) dan kekuatan untuk menjalaninya, karena terkadang kita seakan harus berlari ke arah yang berlawanan di suatu saat yang sama. :)

 

 

 

Some1,

Mungkin pasangan anda belum siap untuk membentuk komitmen, akan tetapi sebagai pasangannya mungkin anda bisa mencari jawaban yang sesungguhnya mengapa di belum siap. Jika tidak, ada baiknya mencoba untuk membicarakannya dari hati ke hati dengan si dia. Jangan sampai keengganannya berkomitmen tanpa alasan yang menurut anda tidak masuk akal itu membahayakan hubungan cinta kasih kalian yang sesungguhnya telah sangat kuat terjalin. Cobalah untuk membuatnya lebih terbuka untuk berbagi ketakutan dan kecemasannya tanpa takut dihakimi, bahwa anda mencintainya dan menerima dia apa adanya, termasuk dengan ketakukan dan kecemasannya.

 

 

 

Salam,

Bonnie


Posted at 11:16 pm by ILF-Voy6346
Make a comment  

Konflik dalam diri

Author: survivor

Date Posted: 04:12:01 11/06/01 Tue

 

hi !

 

aku butuh pendapat dari rekan-rekan yg aku kira dari byk golongan umur dan kematangan. Aku berumur dalam linkungan 35 tahun, punya karer dan kehidupan baik yang aku bentuk sendiri from my own blood and sweat. Aku udah hidup sendiri sejak berusia 16 tahun. Aku mula mengetahui orientasi seks ku pada usia terlalu muda iaitu 5 tahun....aku "mimpi" akan guru ABCku. Aku jatuh dan bangun dalam dunia les dengan mengharungi sendiri....tidak pernah "sharing" kecuali dgn cewek2ku. Aku merasa perjalanan hidup aku terlalu KERAS........sehingga apabila aku memandang "kebelakang" sekali-sekala aku akan merasa amat sedih (dalam hati)....

Kenapa?

 

Mungkin ada yang bisa meringankan...

Terimakasih.

 

 

Author: onis

Date Posted: 05:51:52 11/06/01 Tue

 

salam survivor,

 

senang mendengar keberhasilan anda datang dari keringat dan tetes darah diri sendiri, itu sangat membanggakan buatmu dan siapapun yang mendukungmu.

 

aku bisa mengerti kenapa anda berkata perjalanan hidup anda sangat keras, sepertinya hidup menjadi lesbian itu memang sudah sulit ditambah dengan berbagai macam problem kehidupan yang lainnya.

 

tapi segala kesulitan itu akan sangat berkurang bila kita bisa punya sahabat yang akan selalu menemani kita dalam suka maupun duka, hal itu yang sebenarnya sangat sangat kita butuhkan. sahabat dan kekasih adalah dua hal yang berbeda, dan menurutku adalah bijaksana kalau kita punya kedua duanya sekaligus.

 

aku sendiri punya banyak pengalaman yang tidak mengenakkan dalam hidup ini, dan sering kali aku merasa tidak perlu untuk melihat kebelakang, walaupun banyak yang berkata itu tidak mungkin tapi aku tetap memilih untuk tidak melihat kebelakang jika itu memang sangat sangat menyakitkan buat dilihat.

so, survivor......... keep survive and be tough always.

 

salam,

onis

 

Author: bonnie

Date Posted: 01:21:45 11/07/01 Wed

 

Survivor,

 

Selamat ya atas perjuangannya mengarungi hidup ini!

 

Ya, memang harus diakui tidak mudah menjadi "berbeda" rasanya selalu sendirian selamanya. Definisi bahagia....sedih....dll, selalu berbeda dengan kebanyakan orang.

 

Syukurlah sekarang kita semua disini, paling tidak ada forum ini, sebagaimana yang aku rasakan waktu pertama kali menjumpai forum ini. Yang biasanya menggerutu dan mengeluh: " kok, sulit dan menyakitkan banget sih, hidupku," jadi lebih "tahu diri" dan "tidak lagi merasa sendiri." Bahwa apa yang aku alami tidak seberapa...ada beberapa sahabat juga lebih tidak beruntung, bahwa apa yang dirasa menyakitkan bahkan yang dirasa sangat membahagiakan dapat dipahami oleh para sahabat, walaupun aku tidak mengenal secara pribadi setiap orang.

 

Mungkin itulah yang sementara ini dapat dilakukan, mengusahakan kehadiran dan support kita bagi para sahabat sehati. Karena dengan mengetahui kehadiran mereka dan kemudian kita merasa dihargai dan dipahami. Memberitahukan kehadiran kita, membuat mereka merasa mendapat penghargaan dan pemahaman akan diri mereka. Kemudian sama-sama saling memberikan dukungan, dalam bentuk apapun.

 

Dari kita untuk kita, semoga selalu begitu...dan terima kasih atas kehadirannya!

 

Salam,

Bonnie

 

Author: survivor

Date Posted: 18:47:27 11/13/01 Tue

 

trima kasih onis & bonnie,

 

aku merasa nyaman dan bersemangat selepas membaca feedback dari kamu semua.

 

salam & selamat utk kamu


Posted at 11:08 pm by ILF-Voy6346
Make a comment  

RAGU-RAGU

Author: Lyn.Sc

Date Posted: 21:00:58 10/19/01 Fri

 

Hi...semua salam kenal!

 

Gue baru mulai didunia Lines ini itung-itung baru sekitar dua bulan,karena gue nggak sengaja bisa jatuh cinta berat sama seorang wanita,rasanya aneh tapi nyata.Tapi gue ragu ragu untuk melangkah lebih jauh,bila dilanjutkan bisa sampai dimana perjalanan ini,ujung-ujungnya nggak jelas bagai berjalan dimalam hari.Tapi untuk melupakannya lebih tidak mungkin lagi tiap detik wajah dan suaranya kebayang-bayang.Rasanya dia juga sayang sama gue ,tapi apa mungkin suatu saat dia nggak berubah,kalau berubah betapa sakit hati ini.Aduh betapa bingung hati ini,mungkin teman-teman bisa kasih saran?

 

Author: tamu

Date Posted: 22:16:46 10/19/01 Fri

 

Tok..tok..tok..permisi...

Buat yang ragu-ragu bawa senter dong kalau malam hari!

Sorry...pokoknya tabahkan hatimu sayang...

 

Author: Linda

Date Posted: 22:43:05 10/19/01 Fri

 

Hallo Lyn.Sc

 

Saya kasih pendapat ala kadarnya dulu ya,jawaban yang bagus nanti dari Bonnie,soalnya beliau sedang sibuk menyiapkan catering eh...salah maksudnya Ghatering.

Lyn.sc kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.Tapi kita tetap harus melaju.Seseorang pernah berkata ," untuk bepergian dengan mobil pada malam hari dari Bandung ke Jakarta,kita tidak perlu lampu mobil yang bisa menyorot dari Bandung sampai Jakarta.Yang kita perlukan adalah sorotan lampu sepanjang tidak lebih lima puluh meter saja.Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan kehidupan kita,tapi kalau melangkah sebaiknya harus pasti ya atau tidak.Mengenai perubahan,semua yang ada didunia ini pasti mengalami perubahan,itu sudah hukum alam,kata orang bijak hanya satu yang tidak pernah berubah didunia ini yaitu "perubahan" itu sendiri.Tapi saya harap anda tidak terlalu pesimis menghadapi hal-hal semacam itu,kalau tidak berani melangkah anda tidak akan mempunyai kenangan yang indah dalam kehidupan ini.

 

 

Author: funky

Date Posted: 05:46:32 10/21/01 Sun

 

dear Lyn,

 

Mungkin bener kalo kamu perlu senter dimalam gelap :) biar gak salah jalan dan gak keseleo kayak gue......

gue mo serius dulu sekali ini ... boleh gak Bon ???

kayaknya soal keragu2an kamu itu cukup beralasan, cuma kalo gue pikir2 lagi yahh ada salahnya juga sehh.

masalahnya mungkin gak akan kelar gitu aja kalo kamu coba untuk lupain cewek kamu itu. dan kalo kamu coba buat jalan dengan cowok, apa kamu yakin kalo dia juga gak akan ninggalin kamu satu hari nanti ????????

 

jadi masalah kamu mau lanjutin ama dia atau enggak yahh terserah kamu aja deh, aku gak mau maksa, apa lagi kita belum kenal......hehehehehe....

 

sekian dan salam kenal.

 

always,

funky

 

Author: Lyn.Sc

Date Posted: 22:57:42 10/21/01 Sun

 

Hai..thank's semuanya..

Linda...! ngomong-ngomong kamu Linda Rusady bukan??kirim email dan No.HP kamu ya...please..tak enteni banget!!

 

Author: Linda

Date Posted: 02:27:53 10/22/01 Mon

 

Sorry...saya bukan Linda Rusady

 

Author: ROSSY

Date Posted: 03:25:22 10/22/01 Mon

 

Dengan hormat,

Saya ingin mendaftar ikut kelompok ini bolehkan?bagaimanakah

cara dan persyaratannya?

 

Saya mau bertanya apakah ada hubungan lesbian yang tanpa melakukan hubungan intim/sex(maaf)bisa bertahan?Kapan hubungan itu sudah boleh dilaksanakan?(setelah melewati waktu berapa lama pantasnya)  Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

 

Hormat saya

ROSSY

 

Author: wongyoja

Date Posted: 20:44:25 10/22/01 Mon

 

Aduh piye iki rek,Rossy kamu mestinya ke Post a new Message jadi message subjectnya ora tumpang tindih.Kalau mo daftar iki syarate : foto copy KTP,pas foto 4x4,surat kelakuan baek dari ayah,ibu dan engkong ( cuma guyon...nggak pake syarat koq ).

Setelah melewati berapa lama ? embuh...aku yo ora ngerti mungkin bangsa 10 tahun kali ye...

Makanya rajin ikutan di Forum ini,selama 1 tahun ditanggung pakar.Selamat datang dan mengikuti...

 

Author: bonnie

Date Posted: 00:35:18 10/23/01 Tue

 

Hello Lyn SC dan Rossy,

 

Selamat datang...dan selamat berforum ria.

 

Terima kasih buat teman2 yang sudah berbaik hati mengucapkan "salam perkenalan" yang warna warni :)

 

To Lyn,

Ringkasnya dalam setiap hubungan tidak ada jaminan waktunya. Lama atau tidak sangat tergantung dari banyak faktor, walaupun lama itu berapa lama dan tidak itu lalu berapa lama, kita juga pasti berbeda pendapat.

 

Mencermati situasi kamu saat ini, patut dipertimbangkan bahwa kemampuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan untuk mampu menikmati hubungan itu sendiri juga besar andilnya dalam menjaga kelanggengan suatu hubungan. Seideal apapun suatu hubungan kalau salah satu pihak atau keduanya tidak "mampu" menikmati keberadaan hubungan itu sendiri, ya, tidak usah terlalu repot untuk memikirkan kapan ini semua akan berakhir, mungkin saat itu juga sudah tinggal namanya saja, karena pihak yang berkepentingan secara tidak langsung mengingkari (bersikap atau berfikir)hubungan itu sendiri.

 

Lyn, kecemasan itu perlu, jika itu akan membuat kamu lebih mau berusaha membuat hubungan kalian ini seindah dan selanggeng mungkin. Tapi jika kecemasan itu malah membuat kamu cuma stress berkepanjangan dan nggak bisa berfikir jernih, nggak bisa mendapatkan apa yang kamu impikan untuk didapatkan dari suatu hubungan kasih, sebaiknya kamu mulai instropeksi diri. Saat ini kamu memiliki kesempatan untuk menjalin suatu hubungan, nikmati dan upayakan yang terbaik. Setelah itu kelanggengan (mudah2an-bukan jaminan juga lho) akan mengikuti dengan sendirinya.

 

Salam,

 

To: Rossy

 

Ini forum bebas tidak ada keanggotaan atau semacam itu. JIka berkenan silahkan bergabung dan berforum ria, untuk berdiskusi, tukar informasi, kenalan atau yang lain.

 

Hubungan kasih tidak melulu tentang seks, walaupun itu merupakan bagian dari ungkapan kasih sayang. Hubungan kasih bisa berjalan tanpa seks, tergantung dengan kesepakatan pihak yang terkait, bahkan dalam suatu hubungan perkawinan yang diakui hukum (bagi kaum hetero). Tapi jangan kemudian membangun suatu anggapan2 atau asumsi2 terhadap situasi yang anda tidak sukai karena tidak dapat anda pahami. Seks bisa sangat menyenangkan dan indah, jika didasarkan kasih sayang dan kesiapan fisik maupun psikis yang memadai dan sebaliknya.

 

Bisa jadi saat ini terlalu awal (baik dari faktor usia kamu maupun usia hubungan kalian) bagi kamu untuk mengenal seks dalam suatu hubungan kasih sayang, tapi kemudian itu wajar dan sangat bisa dipahami. So...don't worry be happy!

 

Salam

Bonnie


Posted at 10:58 pm by ILF-Voy6346
Comments (14)  




Next Page

<< April 2014 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed