Author: sampun
Date Posted: 03:13:06 04/17/02 Wed
Mempertanyakan butch
(Judul diatas yang rada provocative itu cuma untuk eye-catching saja)
Pengertian butch disini adalah prototype belokkk yang paling sedikit mempunyai ciri-ciri, terutama pakaian dan penampilan, yang nyaris seperti laki-laki. Bahkan orang "awam" bisa terkecoh mengatakan bahwa butch itu adalah memang laki-laki, sedangkan mata yang sudah terlatih langsung menandai bahwa itulah butch.
Tentu saja tidak bisa serta merta disimpulkan dari semata-mata penampilan bahwa orang tersebut adalah ini dan itu. Karena itu perempuan straight yang berpenampilan "butch" atau paling sedikit tomboi tidak didiskusikan disini. Pun tidak mempertanyakan belokkk yang tidak berpenampilan butch karena ini memerlukan diskusi tersendiri: mempertanyakan fem.
Nah, kembali kepada butch yang belokkk itu. Ada beberapa pertanyaan disini:
Mengapa butch yang berjenis perempuan itu ingin menampilkan diri sebagai laki-laki? Pasti banyak jawaban yang beragam disini, dan jawaban-jawaban atau alasan-alasan lebih menarik untuk dibahas lebih lanjut ketimbang menggugat keberadaan fenomenanya.
Ada yang menjawab, kenapa tidak? Artinya apakah harus mempunyai alasan untuk menampilkan diri sebagai ini dan itu? Tidak ada hak asasi manusia yang dilanggar disini. Selain itu mungkin ada yang menjawab, karena suka menampilkan diri sebagai lelaki (maskulin), jadi ini lebih karena pilihan estetika saja. Ada juga yang merasa (secara sadar dan tidak) karena dia benci untuk tampil sebagai perempuan (feminin). Semua alasan –alasan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan lebih lanjut namun alasan yang belakangan ini bisa menimbulkan konflik dalam diri butch tersebut karena dilain pihak masyarakat telah melihatnya dan mengkondisikannya sebagai perempuan. Mungkin ini yang sering disebut sebagai kasus “terjebak” dalam tubuh perempuan. Lalu bagaimana butch yang ini membebaskan diri dari konflik tersebut? Gugatan untuk membebaskan diri ini cukup beralasan karena kebencian untuk tampil feminine bisa termasuk bentuk pengingkaran diri atau bentuk protes. Apalagi kalau banyak aktivitas-aktivitas yang seharusnya dijalankan tapi tidak dilakukan karena penjara yang berbentuk tubuh feminin ini.
Selain itu pernah dikatakan bahwa menjadi belokkk adalah satu hal, sedangkan menyatakan diri sebagai belokkk adalah hal yang lain. Sebagian orang merasa bahwa butch ditinjau dari penampilannya merupakan suatu “pernyataan”, paling sedikit “inilah saya, apapun saya”. (Apalagi diikuti dengan sejumlah aktivitas lain maka bisa mengarahkan kesimpulan bahwa inilah pernyataan utuh seorang belokkk).
Seorang butch yang sudah memilih out of the closet tentunya sudah menyadari ini. Bisa jadi ini adalah bagian dari suatu perjuangan. Cerita sukses dan tidak sukses (?) cukup banyak bahkan dikompilasi. Tapi bagaimana dengan seorang butch yang memilih (sadar atau tidak) untuk stay in the closet? Inipun bisa menimbulkan potensial konflik karena sebagian dirinya sudah “menyatakan” (ini dapat dirasakan oleh orang awam), sedangkan secara sadar dirinya tidak akan atau belum melalui proses coming out. Bagaimana membebaskan dirinya (lagi) dari konflik ini.
Sekian dulu, sebelumnya terimakasih atas tanggapannya. Kalo ade sale-sale kate maapin aje.
Sampun
Author: Ade Gb
Date Posted: 00:11:58 04/18/02 Thu
Mpun... jadi bingung mau nanggapin apa ya... soalnya hal-hal yang kamu bilang itu sudah sebagian dari alasan-alasan dan kamu sendiri nggak ada gugatan terhadap keberadaan butch.
Tapi kita bisa bicara tentang ini, kita bisa pilah-pilah dulu. Pertama, labelling butch itu mau mengacu pada apa? Apakah pada penampilan saja atau juga pada peran? Kalau acuannya sebatas pada penampilan, masalahnya hanya soal nyaman dan enggak, soal fashion dan enggak, soal fashion mood bisa juga. Bisa jadi untuk orang itu dia nyaman kalau pakai celana, kemeja, kaos longgar. Kalau cuma sebatas pada penampilan, urusannya jadi teramat datar seperti si A sukanya dipiercing, sementara si B sukanya warna coklat, dan si C senengnya pake blazer biarpun hawa panas dan matahari terik ;)
Akan menjadi sangat menarik kalau urusannya soal peran. Seperti dalam dunia heteroseksual di mana ada konstruksi sosial-budaya tentang peran laki-laki dan perempuan, fenomena butch-femme bisa juga berkaitan dengan itu. Referensinya bisa jadi butch adalah yang me-... dan femme adalah yang di-... Misalnya butch adalah yang melindungi sedangkan femme adalah yang dilindungi. Butch yang menangani urusan yang butuh tenaga berat sedangkan femme yang mengurus hal-hal yang "ringan-ringan". Saya mencermati, seringkali referensi peran butch-femme mirip seperti konstruksi sosial-budaya peran lelaki-perempuan dalam dunia heteroseksual. Saya dulu termasuk orang yang into labelling soal pembagian peran ini. Tapi kemudian, ketika hidup bersama pasangan sudah dijalankan, ternyata saya menemukan bahwa tidak ada batasan peran absolut bahwa yang satu adalah yang selalu me-... dan yang lainnya adalah yang selalu di-... Setiap orang selalu me-... dan di-..., dua-duanya sekaligus di saat-saat yang berbeda. Biarpun "butch" tapi kalau lagi down, tentunya butuh diberi perhatian, dihibur, ditentramkan hatinya, iya kan? ;)
Kalau kita melihat lebih dalam lagi, soal pembagian peran lelaki-perempuan maupun butch-femme sebenarnya sangatlah superficial. Inti pembagian peran adalah soal kekuasaan. Soal siapa yang berkuasa pada wilayah publik dan siapa yang berkuasa pada wilayah domestik.
Pembagian peran butch-femme, saya pikir ada kaitannya dengan soal psikologi juga. Memang ada juga yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan, tapi ada juga yang tidak seperti itu. Saya menemukan, beberapa di antaranya berkaitan dengan soal psikologis. Ada di antara mereka yang memiliki bapak yang sangat baik dan kemudian tokoh bapak ini melekat di diri mereka. Ada juga yang lainnya justru punya pengalaman buruk dengan tokoh bapak, sehingga dia mengambil tokoh bapak tapi hanya pada penampakannya saja dan mengubahnya menjadi baik. Pada kasus terakhir, ini seperti ingin memberitahu bahwa harusnya menjadi laki-laki yang baik itu yang seperti ini.
Bagi mereka yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan, permasalahannya, di Indonesia tidak ada kepastian hukum kalau mereka ingin melakukan operasi. Mungkin, kalau memang kepastian hukum itu ada, soalnya jadi lain. Bisa jadi mereka-mereka yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan dan ingin menjadi laki-laki ini merasa lebih nyaman kalau melakukan operasi transeksual. Tapi tahukah anda, bahwa tidak sesederhana itu permasalahannya. Pasangan saya pernah bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian melakukan operasi transeksual tapi ketika dia sudah menjadi laki-laki, dia justru pacaran sama laki-laki juga. Nah lho! Gimana tuh dengan fenomena seperti itu!?
Apa yang saya kemukakan cuma sebagian yang sangat kecil tentang alasan butchi. Namun demikian, masih banyak alasan-alasan lain yang kita tidak ketahui dan seringkali, kalaupun kita mengetahuinya tapi kita tidak bisa memahaminya. Memang perlu juga sih mengetahui alasan-alasan lebih banyak supaya kita paham. Saya setuju sama anda, Mpun, bahwa penting juga untuk mengetahui alasan-alasan dalam rangka pemahaman yang lebih baik, tidak dalam rangka menghakimi.
Saya sendiri, sekarang ini tidak into labelling. I'm a woman and celebrate my womanity with other woman ;)
Author: Mpun
Date Posted: 03:14:41 04/18/02 Thu
Terimakasih tanggapannya yang komprehensif, Ade.
Sedikit mau buka rahasia. Sebenarnya isi tulisan saya diatas "diilhami" oleh tulisan Irenne yang terkenal itu. Dengan asumsi bahwa saya bisa memahami yang ingin disampaikan Irenne dengan "reading between the lines", lalu saya berandai-andai bagaimana kalau saya menyampaikannya lagi dengan sedikit improvisasi yaitu minus ketidaksopanan dan tanpa shu'uzon, disertai beberapa telaah.
Nah, ternyata tulisan saya walaupun yang tanpa shock therapy dan rada membosankan itu ditanggapi secara baik dan bahkan dengan informasi yang lebih banyak lagi (biarpun baru dari 1 orang penanggap, bandingkan dengan tulisan Irenne yang mengundang banyak tanggapan). Ternyata mengkomunikasikan suatu aspirasi yang berbentuk "gugatan" bisa dengan cara shock therapy maupun dengan cara yang rada membosankan seperti ini. Sayangnya, banyak informasi yang berharga bisa terlewat atau tidak terserap seperti yang diharapkan kalau memakai cara yang heboh. (Saya mengharap semoga Irenne membaca ini, atau barangkali tidak karena tulisannya berasal dari milis SS).
Nah, mengenai tanggapan dari Ade.
Ya, pertanyaannya adalah mengenai penampilan dan gaya hidup butch berkaitan dengan dirinya sebagai makhluk sosial di antara masyarakat sekitar, yang awam maupun yang tidak terlalu "awam", yang bersimpati maupun yang "tidak bersimpati". Salah satu gugatan:
"Gugatan untuk membebaskan diri ini cukup beralasan karena kebencian untuk tampil feminine bisa termasuk bentuk pengingkaran diri atau bentuk protes. Apalagi kalau banyak aktivitas yang seharusnya dia jalankan tapi tidak dilakukan karena penjara yang berbentuk tubuh feminin ini".
Dan lagi:
"Tapi bagaimana dengan seorang butch yang memilih (sadar atau tidak) untuk stay in the closet? Inipun bisa menimbulkan potensial konflik karena sebagian dirinya sudah “menyatakan” (ini dapat dirasakan oleh orang awam), sedangkan secara sadar dirinya tidak akan atau belum melalui proses coming out. Bagaimana membebaskan dirinya (lagi) dari konflik ini?"
Dengan kata lain: apakah butch telah berdamai dengan masing-masing alasan yang dipilih (secara sadar maupun tidak)?
Anda juga menambahkan wawasan diskusi,yaitu mengenai peran. Ya, saya setuju bahwa peran butch-femme yang berada diantara spektrum hitam putih itu mungkin cerminan dari struktur sosial yang konvensional. Barangkali, kalau nanti struktur ini berubah, demikian juga yang terjadi dengan perubahan peran butch-femme?
Sekarang struktur peran konvensional itu banyak digugat oleh pro-feminist karena dinilai tidak sesuai dengan perubahan jaman ditambah lagi karena hegemoni lelaki (maskulin) yang cenderung mendominasi dan memanipulasi. Nah, akankah butch-femme memelopori "dekonstruksi" ini atau cenderung mengekor? (Jadi teringat teman lama si Gadispinter yang menuntut agar kaum belokkk belajar feminisme dulu!).
Tentu saja dapat dipahami bahwa sebagian belokkk tidak mempersoalkan label dan peran. Namun sebagian belokkk yang lain dan dalam kenyataan sehari-hari ini masih sangat terasa karena antara lain pemahaman yang membebaskan ini belum sepenuhnya mencapai "trickle down effect". Rupanya jalan masih panjang.
Mpun
Author: gevalia
Date Posted: 09:28:47 04/18/02 Thu
hi Sampun dan Ade GB
aku tertarik ikut diskusi kalian, karena aku sendiri agak quesioning my understanding about these phenomenon.
o..sebelumnya, aku mau bilang untuk Sampun bahwa, aku nggak begitu comfortable dengan pengunaan kata 'belokk' untuk para lesbian/homosexual, karena konotasinya lalu kepada 'deviasi', yang mengandung feature 'non-normality', padahal kita sama setuju bahwa homosexuality is just different.
aku pernah punya bumper sticker yang bilang
'Hoterosexuality is NOT normal...its just COMMON'. I love it..;)
anyways, mengenai kategory butch/femme. belajar dari pengalaman pribadi..aku rasa pembagian peran baik dari sisi penampilan maupun peran kayaknya nggak perlu ada. dulu awal-awal, pasangan aku selalu bilang kalau aku yang femme dia yang butch...aku sih nggak setuju, tapi gitulah..biarin aja...tapi lama kelamaan, terlihat juga kalau pembagian peran itu lalu 'ter-gugurkan', karena penampilan, hmm, aku nggak super feminim juga rasanya..kalau peran..ok aku lebih suka masak dari dia, tapi aku suka main soccer..dianya nggak, aku bidangnya lebih engeneering/science sedangkan dia komunikasi/sastra...trus siapa yg butch siapa yg femme?
tapi kalau kita lihat..kenyataannya memang seperti itu. society have tendency untuk 'mengkategorikan' konstituen-konstituent yang ada, dan menurut aku, itu adalah mekanisme supaya gampang menandai/point fingers when needed. dunia heterosexual dengan peran suami/istri cenderung pakai spektrum hitam-putih, walaupun di dunia barat, spektrumnya nggak se tajam di dunia timur. phenomenon kecenderungan masyarakat unutk meng kotak-kotakan anggotanya itu yang aku nggak begitu paham...aku nggak punya theoretical knoledge/analysis tentang ini...
aku tertarik dengan pertanyaan mengenai keberadaan butch/femme di dunia lesbian yang mengekor konstruksi sosial yang konvensional..atau harusnya di 'deconstruksi'?
secara sepintas aku bilang sih harus di 'de-construksi'and one big argument untuk ini adalah karena konvension yang ada sekarang menitikberatkan kepada 'penampilan' dan 'pembagian peran' yang bukan saja, sama sekali sudah tidak sesuai konteks sekarang, tapi juga bahwa itu adalah hal-hal yang seharusnya nggak penting dalam interaksi manusia. artinya, penampilan seseorang harusnya tidak lebih penting dari apa yang ada di 'kepala' nya atau di 'hati'nya. alasan yang kedua, kalau sudah bisa menerima keberadaan diri sebagai lesbian (dalam closet atau di luar..), berarti sudah 'mampu' keluar dari THE biggest social convention, kenapa lalu mau terikat dengan aturan2 yg ada..??
di lain pihak...aku merasa bahwa kecenderungan untuk mengkategorikan diri/dan orang lain itu adalah one of human basic needs ;) therefore its really hard to escape. kalaupun dalam dunia lesbian kita pengennya nggak ada itu, tapi kok ya banyak juga yang begitu...(qualitatively, aku kira at least 75% yg identify dirinya butch/feme/andro).kalau ada yg punya more accurate figure..will be helpful. and who are we to say that itu hanya karena mereka 'mengekor'..bisa saja bahwa kebutuhan itu timbul karena alasan lain yang kita tidak tau..
jadi kayaknya aku kira itu dikembalikan ke masing-masing pasangan dan orang aja. yang penting disini adalah ketersediaan informasi/wacana tentang berbagai kemungkinan dengan masing-masing argumentnya.that is what democracy all about...its about accesibility and right to choose..which is different from konstruksi social yg berdasar pada budaya/agama/pandangan politik tertentu. for this reason..I am not so much for femminism either..I wish there is not such structured anything...karena most isme come with certain thoughts and 'constrain' which to my understanding..hinders human being from be themeselve, and lead to fanatism.
above all, kalau kita bisa menerima kepelbagaian dengan besar hati..that is the most beautiful. kepelbagaian itu bukan cuma ada antara hetero dan homo...sesama homosexual juga punya perbedaan...so..
I leave it like this dulu ya...karena aku sudah mulai nggak focus nih ;)..nanti sambung lagi deh
take care, ~a
Author: Mpun
Date Posted: 02:59:30 04/23/02 Tue
Hi Ade, Gevalia
Mengenai istilah “belokkk”. Ini ada sedikit romantisme pribadi, istilah ini justru saya tiru dari seorang atau beberapa belokkk di milis ini (hayoooo ngaku…….! …:-). Kebetulan di beberapa puisi yang saya tulis, perkataan dan istilah ini kok cocok untuk menyiratkan beberapa perumpamaan atau simbol yang sejalan penafsirannya. Kemudian untuk membedakan belok dan “belokkk” jadinya saya tambahkan 3 “k” disitu (ini di-ilhami juga oleh anggota milis yang suka ketawa….kekekeke….). Selebihnya bisa dimengerti bahwa ini tak lebih dari sekedar membiasakan kamuflase daripada kebablasan di depan umum kalau lagi ngobrol di resto, misalnya.
Tentu saja saya tidak akan bersikukuh kalau komunitas belokkk keberatan dengan istilah ini. Dalam hal ini romantisme pribadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aspirasi mereka. Seperti juga saya tidak keberatan disebut “Mpun” oleh Ade daripada “Sampun” karena rasanya Mpun lebih gaya.
Jadi sementara belum ada gugatan dari teman-teman lain, atau belum ketemu istilah lain, ijinkan saya untuk menggunakan istilah ini? Terimakasih.
Lagi mengenai penampilan butch. Apalah arti sebuah penampilan? Secara perorangan, menyimak dari yang secara langsung dan tidak langsung dijabarkan oleh Ade dan Gevalia, saya berkesimpulan kita semua setuju bahwa pada akhirnya kepribadian secara keseluruhanlah yang dinilai. Bahwa secara perorangan penampilan banyak ditentukan oleh selera masing-masing. Bahwa penampilan yang bervariasi justru memperkaya.
Tapi secara agregat ternyata penampilan membuat pernyataan, perbedaan dan reaksi timbal balik dari masyarakat umum maupun dari komunitas belokkk itu sendiri. Karena mudah dimengerti bahwa penampilan adalah bagian dari identitas. Sedangkan identitas (selanjutnya peran) adalah citra diri dan kelompok yang proses pembentukannya tidak terlepas dari dari proses konstruksi maupun dekonstruksi yang sedang berjalan di masyarakat kita. Kejelasan antara identitas dan peran sangat menolong dalam membentuk konstruksi yang positip, sehingga selanjutnya memperjelas keberadaan belokkk didunia heterogen.
Khususnya yang ingin saya diskusikan lebih lanjut adalah mengenai butch yang terjebak dalam tubuh perempuan. Dari milis SS yang baru-baru ini saya tengok ternyata disitu ada yang sedang melakukan shock therapy, seperti menggebrak sarang tawon, supaya tawon itu berhamburan, barangkali saja ada tawon dari sarang madu lain yang mampir disitu. Therapist ini (yang kemudian ramai-ramai diantup tawon), intinya mengusulkan agar identitas butch yang trans ini lebih diperjelas demi kepentingan dirinya (kelompoknya) sendiri, komunitas belokkk yang lain dan persepsi masyarakat luas.
Tapi dilain pihak harus diakui bahwa proses menuju kejelasan identitas membutuhkan proses yang panjang dan berkaitan dengan perkembangan konstruksi dan dekonstruksi sosial lainnya dimasa mendatang. Yang jelas ini tidaklah mudah bahkan menyakitkan bagi yang bersangkutan. Bisa dibayangkan kelompok minoritas trans ini akan menjadi kelas yang berkali-kali terpinggirkan yaitu, sebagai perempuan, transgender, dan belokkk. Didalam konteks ini secara sadar atau tidak komunitas trans dan belokkk harus mengevaluasi “cost and benefit” nya.
Mengenai peran. Kita mengerti bahwa peran apapun termasuk yang dalam dunia belokkk butch, femme, andro tidak terlepas dari proses tiru-meniru yang merupakan bagian dari proses suatu konstruksi sosial. Inilah yang saya maksud dengan “mengekor” yaitu menunjuk pada sinisme dari sebagian belokkk yang pro feminis yang merefleksikan kepentingan perempuan secara luas, yang mengkritik pembagian peran ini karena kelihatan mengulang lagi pembagian peran dalam dunia konvensional yaitu maskulin vs feminin. Yang namanya mengekor tentu saja memberi kesan rendahan dan tidak kreatif. Dilain pihak kritikan ini ada baiknya dikemukakan mengingat bahwa didalam peran selalu ada kecenderungan yang satu mendominasi atau memanipulasi yang lain sehingga menjadi konstruksi yang tidak sehat.
Dilain pihak pembagian peran antara butch-femme ternyata bisa dipandang sebagai suatu proses dekonstruksi, yaitu karena seorang perempuan yang utuh (bandingkan dengan transgender yang merasa atau mengaku dirinya laki-laki), mengakui dan mengenakan seperangkat identitas dan peran yang tadinya dikuasai oleh lelaki didunia konvensional. Bukankah ini merupakan gugatan dari tatanan yang sudah ada?
Butch yang kelihatan lebih menonjol didunia belokkk dibandingkan dengan femme dan andro (?), secara tegas bahkan secara secara kontroversial memperkenalkan dan menghadirkan keberadaan belokkk didunia konvensional.
Kehadiran butch juga mengisyaratkan romantisme kepada femme dan andro. Didalam shock therapy SS juga dipertanyakan apakah dalam konteks ini butch merasa atau memperkenalkan dirinya sebagai butch (perempuan) atau trans (lelaki) kepada pasangannya, dan bagaimana pasangan tersebut menanggapi?
Selain itu seperti yang Gevalia kemukakan bahwa mayoritas belokkk tampaknya tersebar diantara peran butch-femme ini. Dengan kata lain, ini adalah fakta representatif yang sedang berjalan.
Kalau telah disepakati bahwa identitas dan peran mempunyai andil penting dalam proses konstruksi dan dekonstruksi, dan karenanya akan memberikan sumbangan positip bagi kesetaraan minoritas belokkk diantara dunia konvensional, selanjutnya pembagian peran konvensional memang mesti di-dekonstruksi.
Pertanyaannya, bagaimana mendekonstruksi peran dalam dunia belokkk itu? Didalam kerangka yang bagaimanakah peran ini bisa diperjelas dan dimengerti, sedangkan identitas dan peran ini seperti yang dikemukakan berkali-kali oleh Ade dan Gevalia, begitu kompleks dan tidak sederhana, tapi tentu saja kita tidak berhenti sampai disini saja. Yang diperlukan antara lain adalah ekspressi atau pernyataan yang jujur dan terperinci dari para butch (termasuk trans), femme, dan andro mengenai keberadaannya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain, dari berbagai kelompok usia, daerah, status sosial dan latar belakang secara umum, dan direkonsiliasi dari catatan yang sudah terkompilasi maupun yang sedang berjalan dan yang akan dilakukan.
Mpun