Author: Leny
Date Posted: 07:38:52 12/23/02 Mon
HARGA SEBUAH EMPATI
EMPATI. Kalau kita melontarkan suatu pertanyaan “Apakah arti dari kata empati ?”, maka banyak orang akan menjawab “Empati aja kok nggak tahu sih ?! Empati adalah suatu keadaan dimana kita bisa ikut merasakan, kemudian mengerti dan akhirnya dapat memahami sesuatu yang sedang dialami oleh orang lain tanpa ikut mengalami peristiwa yang dialami oleh orang itu. Namun tanpa melibatkan perasaan atau emosi kita, karena hal itu akan berubah menjadi simpati”.
Orang akan dengan mudah menjabarkan makna dari empati, namun akan semudah itukah pelaksanaannya ? Pada kenyataannya TIDAK !!! Yang selama ini mudah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat adalah JUDGEMENT. Apa maksudnya ? Pada kenyataannya banyak orang yang memandang bahwa homosexual adalah sesuatu yang nista, penuh dosa dan menjijikkan. Itulah judgement yang diberikan masyarakat kepada kaum homosexual. Mereka yang memberikan judgement itu lupa bahwa homosexual adalah bukan semata-mata suatu pilihan yang bisa dengan seenaknya seseorang memilih untuk menjadi seorang homosexual sebagaimana kita memilih pakaian yang hendak dipakai. Lantas mereka menganggap bahwa seorang homosexual selalu berperilaku buruk, tidak beradab dan senang meng-exploitasi sex. Bukankah perilaku demikian banyak juga ditemukan pada orang-orang heterosexual ?
Bagaimana sebenarnya agar kita bisa mempunyai rasa empati yang tinggi ? Sebenarnya tidak terlalu rumit, yaitu kita berusaha untuk menempatkan atau memposisikan diri kita pada posisi dimana orang lain berada, namun tentu saja harus berangkat dari keinginan yang bersih dan harus melalui suatu perenungan. Dan yang harus diperhatikan adalah kita harus terlebih dahulu membersihkan diri dari prasangka dan keinginan untuk memberikan judgement.
Sebenarnya banyak orang yang tidak mengetahui apa dan bagaimana kehidupan homosexual itu, namun karena sudah ada prasangka maka banyak orang yang tidak mau lagi mendengarkan penjelasan apapun mengenai homosexual. Namun anehnya tanpa ada bekal pengetahuan yang cukup (bahkan jauh dari cukup), mereka sudah memberikan judgement terhadap kaum homosexual. Sebagian besar masyarakat yang memberikan judgement buruk terhadap kaum homosexual tidak pernah berpikir dan apalagi merenungkan bagaiamana seandainya dirinyalah yang terlahir sebagai seorang homosexual dan kemudian menerima judgement / perlakuan yang buruk dari orang-orang di sekitarnya ?
Apabila pertanyaan tersebut dilontarkan maka saya yakin ( 100% yakin ) bahwa orang yang bukan homosexual akan menjawab “Tentu saja saya akan berusaha keras agar saya bisa menjadi heterosexual dan menjalani hidup sebagaimana orang normal lainnya !”. Untuk mereka yang menjawab demikian, saya tidak perlu berkomentar banyak dan saya hanya akan menyarankan agar tingkat empatinya lebih ditingkatkan lagi.
Suatu ketika saya pernah sedikit melakukan adu argumen dengan teman kuliah saya mengenai homosexual. Tentu saja teman saya itu bukan seorang homosexual dn dia tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang homosexual. Waktu itu saya mengetengahkan hasil interview saya dengan beberapa orang homosexual di Surabaya dan seorang transexual. Saya mencoba menjelaskan kepada teman saya bagaimana kehidupan kaum homosexual itu dan apa saja yang mereka rasakan sebagai seorang homosexual, dan bagaimana mereka menghadapi judgement dari masyarakat. Namun bagaimanapun saya mencoba memberikan penjelasan, tetap saja teman saya itu memberikan judgement yang sangat buruk terhadap kaum homosexual. Sebenarnya teman saya itu adalah orang yang mempunyai pengetahuan cukup mengenai homosexual dan hal-hal yang berhubungan dengan homosexual, tetapi mungkin karena teman saya itu kurang mempunyai rasa empati terhadap kaum homosexual, maka yang terjadi tetap saja adalah judgement.
Dari sinilah dapat kita lihat dan kita rasakan bahwa ternyata empati memang mudah untuk dibicarakan dan hampir semua orang tahu apa artinya empati, namun ternyata sebuah empati begitu “mahal” harganya, sampai-sampai banyak orang yang tidak bisa “membelinya” dan memilikinya. Sedangkan sebuah judgement begitu “murah harganya” sehingga banyak “dibagi-bagikan” orang kepada orang lain / pihak lain padahal belum tentu orang lain / pihak lain itu mau menerima judgement tersebut.
Author: FosSilL
Date Posted: 18:40:32 12/23/02 Mon
hai len,
saya rasa kekecewaan km dan lain2nya dapat saya mengerti dengan jelas sekali. banyak orang salah mengartikan orang2 homoseksual ato transeksual terebut karena.....
1. masih banyak di luar sana orang2 yang menyebut dirinya homoseksual atau transeksual memperlihatkan dirinya secara negatif. contohnya: tidak bersekolah, nongkrong sana sini, dll. walaupun saya yakin diantar mereka tidak ada maksud negatif atau lainnya tapi pada kenyataannya orangyang melihat tidak pernah sama dengan apa yang kita inginkan.
2. dilihat dari sisi kebudayaan kita sendiri yang masih cukup tradisional, tidak mudah untuk mereka menerima kenyataan homoseksual dan transeksual tersebut.
3. pada kenyataannya masalah ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hal ini sudah menjadi rahasia umum di mana-mana tapi tetap tidak ada atau jarang sekali adanya pengakuan secara pasti mengenai homoseksual dan transeksual itu.
hal-hal yang menjadi faktor tidak adanya empati karena kesalah pahaman dan kesalhan dalam menilai adalah hak setiap orang yang melihat dan menilai. memang sungguh hal tersebut menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi kita tapi lagi kita dapat menunjukkan sisi baik atau positif kita tapi tidak bagi teman2 sehati lainnya.
pada kenyatannya di negara yang melegalkan hubungan sejenis tetap saja ada mata yang lihat dengan kebencian dan lain2nya. lalu pertanyaan bagaimana dengan negara yang masih belum melegalkan?????
nah, saya juga pernah diskusi masalah ini dengan teman kuliah dan pada akhirnya saya dapat menarik satu kesimpulan yaitu MEREKA MASIH BELUM DAPAT BERLAPANG DADA dengan kenyataan yang cepat lampat harus dihadapi di dalam komuniti masyarakat kita.
jadi apa yang dapat kita lakukan?>??? menurut saya kita tidak dapat melakukan apa2 untuk merubah cara pandang mereka tapi hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu tunjukan pada mereka bahwa orang homoseksual ato transeksual itu tidak kala dengan mereka yang hetero dalam hal karier, kehidupan dll bahkan kita bisa lebih baik lagi dari mereka. hingga suatu hari pengakuan itu dapat kita raih karena kita dalah contoh nyata yang harus dapat menjadi teladan bagi teman2 sehati lainnya, dan hal itu merupakan tangung jawab kita semua yang memiliki kesadaran lebih.
salam sehati.
Author: Leny
Date Posted: 08:26:35 12/30/02 Mon
Halo Fossil,
Mungkin kita tidak harus berdiam diri saja menghadapi masyarakat yang anti homosexual. Memang yang lebih penting adalah kita berbuat sebaik mungkin dan memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kaum homosexual tidak kalah dengan kaum heterosexual, baik dalam karier, pendidikan dsb. Selain itu sebenarnya kita bisa juga kok sedikit demi sedikit mengubah cara pandang orang heterosexual yang semula anti homosexual menjadi toleran dan akhirnya menjadi "pembela" kaum homosexual. Saya pernah melakukan itu, dan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Salah satu yang saya lakukan adalah sering dan sangat...sangat...sangat sering melakukan diskusi mengenai homosexual dengan teman saya yang anti homosexual itu. Pada awalnya di malah jijik mendengar kata homosexual, namun karena kita sering diskusi maka akhirnya dia menjadi terbuka pikirannya dan toleran terhadap kaum homosexual. Jadi yang saya lakukan dengan membuat tulisan tersebut adalah bukan semata-mata karena saya kecewa dan sakit hati kemudian dendam dengan masyarakat yang anti homosexual, TIDAK. Saya hanya ingin mengajak masyarakat untuk berdiskusi dan mau mencoba sedikit memahami bagaimana sebenarnya kaum homosexual itu, agar mereka tidak selalu memakai kacamata kuda dan tidak mau melihat sesuatu hal dengan lebih luas. Memang apa yang saya lakukan tidak bisa membawa hasil dalam semalam, namun segala sesuatu harus ada yang memulai. Itu saja !
Thanks, buat tanggapannya.
Author: Bonnie
Date Posted: 01:36:47 12/24/02 Tue
Dear friends,
Penerimaan yang minim disebabkan banyak hal, umumnya karena keterbatasan pengetahuan yang memadai tentang homoseksualitas itu sendiri.
Keterbatasan informasi disebabkan banyak hal di Indonesia antara lain:
1. Monopoli kekuasaan untuk memberikan penafsiran dari agama tertentu terhadap homoseksualitas
2. Kelangkaan/minimnya informasi tentang homoseksualitas
3. Prasangka negatif terhadap homoseksualitas seperti;
a. Memahami hubungan sejenis atau homoseksualitas dalam hanya konteks “seks” yang kemudian menjadi satu-satunya pemahaman yang ada dimasyarakat umum.
b. Kemudian dengan pemahaman awal tersebut diatas banyak orang mengasosiasikan “pesta seks” sebagai satu-satunya image tentang homoseksualitas.
Belum banyak diketahui bahwa:
1. Dalam homoseksualitas terdapat:
a. lesbian
b. biseksual
c. gay
d. transgender
e. transeksual
2. Ada alternatif penafsiran terhadap homoseksualitas, yang dengan monopoli kekuasaan tertentu (biasanya penguasa) tidak pernah dipublikasikan sebagaimana penafsiran tentang anti homoseksualitas;
3. Informasi yang salah bahwa homoseksualitas adalah suatu penyakit kejiwaan, yang kemudian telah direvisi sejak tahun 1970, termasuk diberlakukan di Indonesia, juga jarang diketahui oleh publik;
4. Orientasi seksual adalah hak yang asasi bagi seorang manusia sebagaimana hak asasi lainnya termasuk memiliki agama, penghidupan yang layak;
5. Orientasi seksual tidak semata berhenti pada kata: SEKS dan tidak melulu tentang kegiatan SEKS, malah ada beberapa hubungan sejenis tanpa kegiatan seksual;
6. Norma-norma suatu hubungan sejenis/homoseksual juga sama seperti halnya heteroseksual (kecuali tentang jenis kelamin pasangannya), monogami, keinginan membangun rumah tanggal, berkeluarga, punya anak, dll;
7. Heteroseksualitas bukan kemutlakan atau yang satu-satunya yang normal, homoseksualitas juga normal, hanya saja heteroseksualitas lebih umum dibandingkan homoseksualitas;
8. Pemahaman tentang homoseksualitas bukan suatu misi propaganda homoseksualitas yang bermaksud mengkonversi seluruh orientasi umat manusia akan tetapi hanya preferensi seksual dari seorang manusia.
Hal lain yang juga penting adalah bahwa homoseksual maupun heteroseksual hanya manusia biasa, ada yang baik dan ada yang jahat, terdiri dari beragam profesi, tingkat sosial, latar belakang pendidikan, kepribadian, bakat, penampilan fisik, dll.
Untuk itu, akan selalu ada rekan homoseksual yang tidak seberuntung yang lainnya dalam kehidupan sosial, kemampuan fisik dan intelektual, termasuk latar belakang psikologis dan memiliki variasi preferensi dan minat (cara berpenampilan dan berperilaku). Banyak ragam dengan banyak alasan, tidak setiap kali kita mampu memahaminya. Tapi adalah hak setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri dan menjaga hak orang lain (tidak merugikan orang lain).
Untuk itu juga tidak proporsional jika kita menilai rekan yang kurang beruntung atau tidak memiliki kemampuan cukup untuk menjadi lebih baik, sebagai pihak yang memberi contoh yang “tidak baik” bagi homoseksual. Manusia heteroseksual lebih banyak, pasti diantaranya banyak juga yang “tidak baik”, tapi kemudian tidak membuat kita berfikir setiap hetero juga tidak baik dalam artian yang sama.
Saya yakin setiap dari kita berusaha menjalani kehidupan kita sebaik2nya dan kapasitas terbaik kita, kita berusaha jadi teladan bagi manusia lain, bukan hanya homoseksual. Kita akan berusaha semampu kita, tapi kemudian kegagalan kita bukan berarti kegagalan seluruh homoseksual. Walau mungkin sebagai homoseksual kita mendapat sorotan dan tekanan lebih itu hanya adanya kesalahpahaman terhadap homoseksualitas yang harus diluruskan atau cara penyampaian yang perlu disesuaikan mungkin juga butuh waktu yang lebih lama.
Lagipula, jika satu-satunya yang penting untuk dinilai adalah orientasi seksual seseorang maka apapun yang dilakukan tidak akan pernah cukup baik, kecuali ia memiliki orientasi seksual yang dianggap benar.
Umumya, sering kali kita juga lupa bahwa dengan situasi dimana informasi dan penerimaan terhadap homoseksualitas yang minin di Indonesia (belum lagi prasangka dan image yang “menakutkan” tentang homoseksualitas) kita juga butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencerna homoseksualitas dan menerima diri kita sendiri, lalu kemudian saat kita berdialog dengan orang lain yang non homoseksual, kita sering kali lupa jika mereka juga butuh waktu untuk mencerna dan kemudian menerima sehingga seringkali kita kecewa. Mungkin kita juga harus cukup toleran dan bersabar, memberi mereka cukup waktu dan ruang untuk mencerna semuanya. Dalam pengalaman pribadi saya, terkadang buat 1 orang butuh proses bertahun-tahun hingga akhirnya ia bisa menerima preferensi seksual saya. Tapi memang ada juga beberapa orang yang bisa menerima begitu saja tanpa butuh waktu, usaha dan penjelasan yang panjang lebar.
Dari kita untuk kita,
Salam,
Bonnie