Author: Koko
Date Posted: 15:22:27 06/27/01 Wed
Halo semua, panggil saya koko. selama satu tahun ini senang rasanya mengenal forum semacam ilf yang saya rasa sangat suportif untuk kaum opressed macam kita. barusan saja ibu ku berkeberanian untuk konfront pilihan sexual saya. Ternyata dia sudah tahu tentang pilihan saya ini beberapa bulan terakhir. Tentu saja, dia menangis dan merasa bersalah sekali telah melahirkan seorang lesbian. secara sepihak saya merasa senang dan lega sekali karena saya tidak perlu memulai langkah pertama untuk 'out' kepada ortu. saya berusaha yakinkan ibu bahwa pilihan inilah yang membuat saya bahagia. sebagai orang kristen yang sangat "taat" ibuku terus saja menyangkal dan mengatakan bahwa lesbianisme itu dosa yang sangat besar. sementara itu ayah sudah email dan mengajurkan mencari dokter yang netral. aku senang mereka tidak dengan semena mena memutuskan hubungan anak-ortu tetapi selalu saja ada kemungkinan itu dan aku siap menghadapinya. tetapi sebagai manusia tentu saja saya masih takut menghadapi masa depan yang sepertinya tak menentu. adakah teman teman dibelantara forum ini yang berpengalaman seperti saya? adakah informasi informasi yang mungkin saya bisa kirimkan ke ortu tentang seluk beluk lesbianisme yang mungkin bisa menyejukkan hati mereka, entah itu dari segi kesehatan ataupun, sosial, psychology, dll? please whisper your support for me and i'll do the same for you all!
**koko
Author: Canly
Date Posted: 22:33:28 06/27/01 Wed
Dear Koko,
Saya ada bbrp teman yg mengalami hal yg sama seperti kamu, yang pasti ada yg ortunya depresi dan feeling quilty, namun ada juga yg ortunya pengertian dan berusaha menerima keadaan anaknya sbg Lesbian/gay. Saya rasa yg perlu kita lakukan adalah komunikasi dg ortu kita, beri pengertian bahwa lesbian/gay itu bukan suatu penyakit fisik, tapi merupakan sifat/bawaan dari sejak lahir, hanya saja ada yg mungkin masih belum menyadari keadaan dirinya sampai suatu saat dia mengalami pencerahan/sadar dg keadaan sebenarnya dari dirinya. Ada yg menyadari sejak kecil/sekolah, ada yg menyadari setelah mengalami pengalaman hidup dg pergaulan di lingkungan, ada pula yg malah karena terbawa-bawa atau terpengaruh teman yg lesbian/gay. Saya rasa Koko mungkin saja masih bingung jati diri, hal ini terbukti dari pikiran Koko ke masa depan yg belum pasti. Seorang Lesbian/gay sejati pasti sudah bisa menerima diri apa adanya dan sudah siap menghadapi hidup ini dg cobaan apapun, baik-buruk, senang-sedih, dsbnya. Dan juga sudah punya rancangan ke masa depan untuk hidup dg pasangan hidup pilihannya. Hanya saja kadang masih saja ada lesbian/gay yg psycho atau suka gonta-ganti pacar tanpa tujuan hidup, hal ini disebabkan karena mereka kemungkinan tidak bisa menerima keadaan dirinya yg tidak bisa diterima di masyarakat dan kondisinya yg tidak sesuai harapan. Atau juga krn pikiran mereka terpengaruh tradisional yg menganggap bahwa lesbian/gay itu adalah suatu penyakit yg tidak bisa disembuhkan atau bisa disembuhkan namun susah.Saya tekankan sbg seorang lesbian/gay tidak salah dan bukan penyakit, tapi bawaan dan inilah kita apa adanya, orang menerima kita bersyukur dan senang, tidak diterima juga tidak apa-apa, maklum saja, kita masih hidup di dalam budaya Timur, sedangkan di Barat hal ini sudah tidak mengherankan dan sudah menjadi salah satu hidup yg normal baik lesbian/gay.
Untuk Koko, kalau ingin konsultasi dg psikiater, saya rasa tidak perlu, tidak ada gunanya, tokh kalau memang Koko seorang lesbian/gay tulen, mau digimanain juga tidak akan berubah, paling2 nanti malah jari heteroseksual (Biseksual), dan ini malah akan menyakiti 2 belah pihak lawan jenis. Just be yourself ang tough! Welcome to real world of life ... accept and just go on !
Salam,
Canly
Author: Bonnie
Date Posted: 10:14:40 06/28/01
Hi Koko, Selamat ya, paling tidak anda telah melampaui salah satu masa yang tidak mudah dalam kehidupan lesbian, yaitu menghadapi reaksi orang tua atas pilihan orientasi seksual kita.Salah satu sources yang dapat memberikan informasi yang memadai adalah artikel2 yang ada di link Artikel-Bonnie dibagian atas halaman web ini, terutama pernyataan dari asosiasi psikolog yang ada di Amerika dan pengakuan dari Ibu seorang lesbian (disadur kedalam bahasa Indonesia, originalnya dalam bhs. inggris). Jika anda ingin lebih lengkap, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencantumkan semua original linksnya (jika tersedia informasinya), jadi anda tinggal klik saja, termasuk link-link dari beberapa web page lain yang didedikasikan untuk kehidupan homoseksualitas diantaranya comingout stories, buddybuddy.com, juga sharing dari rekan2 tentang pengalaman serupa yang pernah dilakukan di forum ini dibagian diskusinya. Jika ada kesulitan untuk mendapatkannya karena adanya error (baca: bonnie’s error) maka anda bisa menghubungi saya untuk mendapatkan teks aslinya dalam bentuk dokumen miccrosoft word.Pada umumnya jalan tengah yang dapat membantu adalah adanya komunikasi, tapi pada intinya (bagi saya pribadi) yang dapat sangat membantu orang tua kita untuk mengerti adalah pendidikan tentang homoseksualitas. Ada berbagai cara, diantaranya adalah komunikasi, tapi mengingat cara berkomunikasi antara orang tua dan anak dalam budaya timur tidaklah semudah sebagaimana yang terdapat di masyarakat di Barat, maka salah satu pilihannya adalah menawarkan informasi berupa bacaan ataupun melalui web page yang memberikan informasi tentang pengalaman lesbian lain terutama penglaman orang tua mereka.
Kalau saya ingat-ingat dulu, perasaan yang paling mencekam saat menyadari orientasi seksual saya adalah bahwa sayalah satu2 yang berbeda, aneh, tidak normal, dan berbagai istilah lain yang terdengar mengerikan. Saya pikir, kurang lebih itulah yang dirasakan oleh orang tua saya ketika menyadari dan mengetahui bahwa saya seorang lesbian. Lalu saya ingat bahwa hal yang paling membantu saya untuk dapat menerima kenyataan itu salah satunya adalah mengetahui bahwa ternyata ada orang-orang seperti saya, bahwa saya tidak sendirian dan kami tidak sakit dan tidak normal, dlsb.
Jadi kesimpulannya, mungkin para orang tua dapat belajar memahami melalui cara yang sama. Namun perlu diingat adalah hal serupa merupakan keharusan, saya yakin setiap manusia akan belajar dengan cara yang berbeda-beda. Yang jelas intinya adalah mendapatkan informasi yang memadai akan mendapatkan pemahaman dan kemudian penerimaan. Hal lain yang harus diingat adalah bahwa bagi beberapa orang mereka perlu waktu sendirian untuk memahaminya, sehingga bisa jadi keinginan kita untuk berkomunikasi secara lisan akan dapat dianggap dan dirasakan sebagai gangguan ataupun paksaan. Untuk itu mungkin anda bisa mempertimbangkan untuk memberikan mereka cukup waktu untuk mengkajinya sendirian. Dan jika anda ingin memberikan informasi, mungkin anda harus lakukan dengan cara lain, selain komunikasi lisan. Dalam situasi anda, saya pikir anda benar bahwa anda cukup beruntung memiliki orang tua yang memilih untuk bertindak dan bereaksi seperti yang ayah anda lakukan.
Menurut saya, anda sudah menerima dan memahami orientasi seksual anda, terbukti dengan reaksi anda terhadap situasi ini. Hanya saja, pertanyaan wajar yang muncul adalah apa dan bagaimana pengaruh orientasi seksual terhadap masa depan anda, dan apa yang bisa lakukan terhadap situasi ini? Jika masa depan yang anda maksudkan adalah diantaranya relationship dan karir maka yang dapat saya bagi disini adalah hal tersebut akan sangat tergantung dari apa yang anda inginkan dan apa yang anda pikir anda bisa dapatkan.
Dalam karir, yang sesungguhnya penting adalah profesionalisme kerja anda dalam bidang kerja anda. Walaupun tidak dapat disangkal bahwa adakalanya orientasi seksual anda dapat pula memberikan pengaruh tertentu, seperti sikap anti gay dari rekan kerja yang bisa jadi mengganggu karir. Tapi saya yakin, jika anda memang profesional maka anda akan dapat melampauinya dengan baik dan sukses dalam karir anda.
Relationship? Tergantung apa yang anda inginkan, yang jelas faktanya adalah hukum kita belum mengakui “same sex marriage.” Sikap keluarga terutama orang tua juga bisa memberikan pengaruh juga, termasuk sikap dari pasangan dan keluarga pasangan anda. Akan tetapi dari situ mungkin anda bisa mendapatkan gambaran lebih atas bentuk hubungan yang bagaimana yang anda inginkan dan bisa dapatkan. Saya harap anda segera bisa mendapatkan gambaran yang lebih pasti masa depan anda. Jika belum, jangan terlalu khawatir, dalam belajar dan memahami, tidak ada cara yang paling benar dan yang paling tepat, semuanya relatif, tergantung sudut pandang dan tujuan anda saat menjalaninya.
Yang terpenting adalah bahwa kita tidak pernah berhenti untuk berusaha dan saat menjalaninya kita memiliki tujuan baik, dan sebisa mungkin tidak menyakiti atau bermaksud jahat terhadap orang lain maupun diri sendiri. Terkadang memikirkannya lebih menakutkan ketimbang menjalaninya, namun setelah menjalaninya rasanya tidaklah terlalu buruk. Selama kita menyadari bahwa dalam perhubungan antar manusia, kemampuan kita untuk terus belajar akan membuat kita “survive”, karena manusia itu dinamis. Kita pasti membuat kesalahan disepanjang perjalanannya, tapi bukan berarti membuat kita lalu berhenti selamanya dan menyesalinya, akan tetapi kesalahan seharusnya membuat kita berusaha/belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi.
Good luck, my friend!
Salam,
Bonnie
Author: Ratri M.
Date Posted: 00:46:44 06/29/01
Dear Koko,
Bagaimanapun dalam situasi yang kamu hadapi, saya hanya bisa memberi ‘kekuatan’ lewat kata-kata, dan ini pun semoga membuatmu tetap tegar dan yakini semua pilihan hidupmu.Memang ngga’ mudah berbicara dengan ortu, terus terang aku sendiri ‘belum’ mengalami masa-masa itu. Hanya saja kebetulan pasangan hidupku (Smara) pernah lalui hal itu dengan “baik”. Bahkan sekarang alhamdullilah ibu Smara sudah menganggap aku ‘menantu’ yang baik :). Tetapi memang perjalanan menuju itu sangat panjang. Uhmmmm, aku akan sedikit berbagi apa yang dialami Smara (ceritanya nih aku jadi juru bicara dia di forum ini, maklum dia kurang akrab tuk bicara di forum cyber:)). Jadi dulu Smara sempat ‘lari’ dari keluarganya sebelum membuat ‘pengakuan’ secara tertulis lewat surat. Dan tentu saja orang tuanya pastilah ‘kurang bisa menerima’, namun memang pada akhirnya mereka kembali terima dirinya dengan ‘berat hati’. Ibunya yang memang lebih ‘cemas’ menerima hal tersebut, sementara bapaknya (alm) agak ‘tenang’ menghadapi. Tapi sikap Smara yang pendiam, dan tidak ‘memberontak’ dalam mengkomunikasikan tentang keyakinan dirinya, pada akhirnya itu yang justru menaklukkan hati keluarganya, terutama ibunya. Ibunya tentu saja sulit menerima pilihan hidupnya, namun Smara tetap bersabar menunjukkan bahwa meski orientasinya bukan hetero seperti kakak dan adiknya, namun dia tetap berbakti pada ibunya.
Kalaupun ada konflik/pertentangan dengan ibunya, lalu sang ibu mulai mengatakan soal dosa dan sebagainya, maka biasanya dia hanya diam dulu. Setelah ibu mulai ‘tenang’ berganti dia sekali lagi bicara dengan bahasa dia yang halus bahwa apa yg dia jalani memang pilihannya.Tak cuma itu dari sikapnya pun ditunjukkan kalau dia samasekali tak ada niatan ‘melawan’ atau ‘merusak’ nama baik keluarga. Ia tetap bekerja dengan baik, dan tetap menghargai ibunya sebagai seorang yang telah melahirkannya. Memang agak berat menjalani itu, karena terbayang kan, dia ‘dimusuhi’ tapi dia harus tetap berbaik-baik pada keluarga, terutama pada ibunya. Waktu pertama kali aku jalan sama dia, aku merasakan benar konflik batin tersebut. Namun aku juga harus ikut ‘kuat’ menanggung itu bersama dengannya. Dan alhamdullilah sampai sekarang hubungan kami dengan ibunya pun makin baik. Memang sih sesekali ia masih suka memberi ‘ceramah’ soal punya ‘keluarga’, ‘punya anak’, dll, tapi buat kami itu memang sesuatu yang ‘wajar’ bila dikatakan oleh seorang ibu seperti beliau. Yang penting memang dari kita yang harus lebih ‘kuat’ dan tahan menahan segala ‘gempuran’.
Anyway, soal bahan bacaan yang mungkin bisa adopsi, ada sebuah cerita dari situs angelfire.com dengan judul The confession of Lesbian’s Mother, yang mungkin bisa dikirimkan buat Mama-mu, cerita itu sudah di cuplik di Jurnal Perempuan Edisi 16 (Edisi Ibu dan anak perempuan), yang memuatnya sebagai cerpen dengan judul “Sebuah Pengakuan”. Aku rasa itu bagus banget tuk dipahami para ibu lesbian. Dan benar kata Bonnie, terkadang memang lebih mudah berkomunikasi lewat tulisan untuk hal-hal tertentu karena adanya gap antara anak dan ortu. Moga sukses buatmu.
Warm wishes
Author: koko
Date Posted: 08:31:47 06/29/01
Terimakasih untuk semua dukungan teman teman.Saat ini saya sedang menyusun surat untuk orang tua, wah rasanya seperti menyusun skripsi saja, dengan segala macam article yang mungkin bisa memberi alternative gambaran tentang seluk beluk seorang lesbian. Testimoni kalian semua sangat berharga dan sangat suportif untuk saya sendiri. Again, from the deepest place in my heart, thankyou.
**esther
Author: auditor
Date Posted: 10:32:46 09/01/01
Hi koko,
I just wondering how are you doing now? Hope everything is fine with you now. If the thingy is still lingering about meeting the psycologist/psychiatrist? If it still....I would like to share my experience (meeting pychologist/psychiatrist) with you. Please keep us informed.
Sincerely,
Auditor